Syarat-Syarat Menuntut Ilmu


Imam Ali a.s. telah menjelaskan syarat-syarat mencari ilmu dan beliau menegaskan bahwa untuk mencarinya harus dengan tujuan untuk mengerti dan memahaminya, bukan untuk tujuan perdebatan dan berbantah-bantahan. Oleh sebab itu, kita harus membahas secara tuntas wasiat dan pesan beliau dalam hal ini. Berikut syarat-syaratnya:


1. Niat yang Suci dan Tulus


Dalam mencari dan menuntut ilmu, langkah dan syarat pertamanya adalah niat yang tulus dan suci. Kita harus terlebih dahulu memperbaiki niat dan menjadikan tujuan pencarian ilmu tidak hanya untuk sekadar memahami dan mengetahui. Jangan sampai niat kita (dalam mencari ilmu) hanya untuk mempersenjatai diri dalam pertikaian dan perdebatan.


Maka kita harus memperhatikan niat, apakah kita sungguh-sungguh ingin memahami sesuatu atau kamu hanya ingin berdebat, dan memamerkan ilmu. Apabila syarat ini telah dipenuhi secara sempurna dan benar-benar ingin memahami hakikat dan kebenaran tanpa ada tujuan lain yang negatif, saat itulah kita boleh melangkah ke syarat berikutnya dalam mencari ilmu.


Sesuatu yang paling disukai oleh Imam Ali a.s. adalah takwa dalam ilmu dan amal serta membatasi diri pada taklif-taklif yang wajib. Perhatikanlah, betapa pentingnya masalah ini dalam dunia kita sekarang. Apabila manusia mengamalkan hal ini, dia akan terselamatkan dari banyak penyimpangan dan penyelewengan.


Mereka yang terjerumus dalam berbagai penyelewengan dan penyimpangan adalah sebagai akibat dari tidak mengamalkan wasiat penting ini. Atau, karena mereka melakukan (pencarian) dengan motivasi non-Ilahi serta cara yang keliru, atau dalam rangka mencari ilmu melangkah terlalu cepat serta terburu-buru; atau kadang tidak mempelajari mukadimah-mukadimah yang perlu atas ilmu yang hendak diraih, atau masuk dalam pencarian tanpa guru, ahli dan pembimbing.


Beberapa faktor di atas, masing-masing sudah cukup untuk menjadi sebab terjadinya penyimpangan dan penyelewengan bagi seseorang. Dengan demikian, maka pertama-pertama haruslah diketahui secara jelas dan teliti, apa yang menjadi taklif dan tugas kita. Baru kemudian kita memastikan adanya kesiapan, kemauan, waktu luang yang cukup untuk melakukan pencarian ilmu secara terperinci. Lebih penting dari semua itu adalah menjadikan niat yang tulus serta motivasi Ilahi yang jauh dari hawa nafsu sebagai esensi dari apa yang dilakukan.


2. Meminta pertolongan dan bertawakal kepada Allah Swt

Selanjutnya, kita harus meminta pertolongan dan petunjuk dari Allah Swt, karena tanpa pertolongan dari-Nya, maka seharusnya dan sepantasnya kita tidak pernah melangkahkan kaki dan berjalan dalam hal ini. Dengan memohon pertolongan Allah dan membersihkan niat agar dapat meraih pengetahuan-pengetahuan yang benar dan memahami hukum-hukum sebagaimana adanya, lalu mengamalkannya. Oleh sebab itu, syarat kedua adalah bersandar pada pertolongan Ilahi. Karena tanpa inayah-Nya, tak seorang pun dapat sampai pada tujuan. Tentu, semakin suci tujuan seseorang, maka bersandar pada maqam rububiyah menjadi semakin dibutuhkan dan pengaruhnya juga akan semakin besar dan dalam.


Perlu kita waspadai, bahwa meminta pertolongan dan bertawakal kepada Allah tidak hanya diperlukan pada awal pencarian, tetapi selalu diperlukan sepanjang masa pencarian, yakni dari waktu ke waktu dan dalam tiap-tiap materi pencarian dan bahasan, tidak boleh sekejap pun dilupakan masalah isti'anah dan tawakal kepada Allah.


3. Menghindari Hal-hal yang Menyesatkan


Menjauhi hal-hal yang bersifat syubhat, cara dan jalan yang tidak jelas serta meragukan. Berkaitan dengan masalah ini, Imam Ali as berkata: “Yakni, dalam mencari ilmu, hindarilah dalil dan bukti yang menarikmu dalam syubhat dan menenggelamkanmu dalam kekeliruan. Hendaknya engkau memilih jalan yang benar (yang tidak meragukan) agar bisa mengantarmu pada tujuan. Jangan sekali-kali kamu melalui jalan-jalan yang menyimpang, yang dapat menyeretmu pada kesalahan dan kesesatan. Oleh sebab itu, berpeganglah pada dalil dan bukti yang jelas dan tidak menyesatkan.”


4. Kemauan yang Kuat dan Tekad yang Bulat


Setelah dipenuhinya tiga syarat sebelumnya, tibalah saatnya kita untuk membuat keputusan yang pasti dan membulatkan tekad untuk memusatkan seluruh daya dan energi dalam mencari dan menuntut ilmu. Ketika keputusan telah dibuat untuk melangkah dalam pencarian ilmu, janganlah sekali-kali digunakan energi kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan lain. Akan tetapi, kita harus menjadikan seluruh perhatian dan konsentrasi dalam rangka pencarian ilmu. Kita harus banyak menambah ilmu dan menjauhi aktivitas-aktivitas yang tidak berkaitan dengan ilmu.


Seseorang yang hendak mencari pengetahuan agama, haruslah berhati-hati untuk tidak jatuh dalam kesalahan dan kekeliruan. Seseorang yang melakukan kesalahan dan kekeliruan atau mempunyai niat yang tidak suci serta motivasi setan dan bermuara pada hawa nafsu, maka dia tidak dapat melakukan pencarian pengetahuan-pengetahuan keagamaan.


*Disarikan dari buku 22 Nasihat Penghalus Budi - Prof. Taqi Misbah Yazdi