Tolok Ukur Nilai Moral


Setiap tindakan adalah suatu sarana untuk suatu tujuan, dan tak ada tindakan yang secara alami dilakukan demi tindakan itu sendiri. Nilai setiap tindakan dan keinginan terhadapnya tunduk pula pada hasil yang diperoleh dari tindakan itu. Orang yang berniat melakukan perjalanan akan mengambil serangkaian tindakan, dari misal membeli tiket kendaraan, mempersiapkan perlengkapan dan bekal untuk perjalanan, lalu bersiap untuk naik bus atau pesawat terbang.


Dengan memenuhi tindakan pendahuluan ini, tentulah ia bermaksud untuk mencapai maksud, yakni tujuan perjalanan yang dikehendakinya, dan tidak sekadar melaksanakan tindakan-tindakan itu saja. Jadi, nilai tindakan bebas manusia tunduk pada hasil yang dimaksudkannya sejak awal dan yang telah ditentukannya sebagai tujuannya.


Contoh lainnya adalah jika seseorang membangun sebuah rumah sakit untuk pamer agar orang memujinya. Tujuannya dalam mengeluarkan uang dan waktu adalah semata-mata untuk mendapatkan kemasyhuran dan popularitas dari kalangan manusia. Ketika rumah sakit itu telah dibangun, ribuan orang termasuk para mujahid dan pejuang Islam di jalan Allah, dirawat di rumah sakit itu. Apakah orang itu mendapatkan pahala dari tindakannya itu? Jelas tidak. Karena, tujuannya bukanlah untuk mewujudkan hasil-hasil itu; hanya cinta akan kemasyhuran yang mendorongnya untuk melaksanakan tindakan itu.


Sebaliknya, apabila seseorang membangun sebuah rumah sakit dengan niat agar para hamba Allah dan orang-orang cedera dan tertindas di masyarakat menggunakannya, tetapi kebetulan sebuah bom menimpa dan menghancurkannya sehingga rumah sakit itu tidak membawa suatu hasil, amal tindakannya sama sekali tidak akan kehilangan nilai, karena sesungguhnya ia telah membangunnya demi tujuan yang sangat mulia. Tentu saja, apabila rumah sakit itu tetap selamat dan tujuan pembangunannya juga terpenuhi, ia akan mendapat pahala yang lebih besar.


Dengan mempertimbangkan contoh di atas, yang menjelaskan bahwa di samping hasil, niat dan tujuan pun mengandung makna langsung pada pemberian nilai pada perbuatan manusia, maka pertanyaannya sekarang adalah: Perilaku bagaimanakah yang harus ada pada manusia dan tujuan apa yang harus dipertimbangkannya agar tindakan, perangai, dan perilakunya menjadi bernilai?


Sebelum memperhatikan hal ini, kita harus melihat dulu apakah pada dasarnya kebenaran itu dan apa tolok ukurnya dari sisi pandang Islam. Secara keseluruhan, kebenaran dan tolok ukur nilai dari sisi pandang Islam dan sistem nilai paham Islami ialah kesempurnaan yang muncul dalam jiwa manusia dan yang mengantarkannya kepada penyembahan kepada Allah, mendekat kepada-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya.


Tentu saja, kesempurnaan ini harus dicapai sebagai hasil dari perbuatan bebas manusia sendiri, agar kesempurnaan ini bisa dipandang memiliki nilai moral dan orang yang mempunyainya berarti mencapai kemuliaan yang sebenarnya dan kehormatan yang nyata. Oleh karena itu maka dari sisi pandang Islam, hanyalah kesempurnaan rohani yang merupakan sumber nilai manusiawi yang positif dan mulia.


Kesempurnaan fisik dan jasmani tidak mengandung nilai yang sejati. Bahkan, kekuatan jiwa yang dikaruniakan Tuhan pun tak otomatis dapat menjadi sumber nilai. Kecerdasan yang luar biasa dan ingatan yang kuat tidak dengan sendirinya menjadi sumber kesempurnaan jiwa. Karena, ada orang yang dikaruniai kecerdasan tingkat tinggi namun tenggelam dalam jurang kejatuhan manusiawi yang paling dalam, dengan menggunakan kecerdasannya untuk menjual diri sendiri dan diri orang lain. Jadi, kecerdasan saja bukanlah sumber nilai mutlak. Kecerdasan dan ingatan bukanlah nilai-nilai mutlak, melainkan alat untuk mencapai nilai yang sebenarnya.


Manusia, sedikit banyaknya mengukur sebagian nilai itu dengan watak dan kecerdasan bawaannya sendiri, dengan memasukkan ke dalam nilai-nilai itu kejujuran, ketulusan, dan kesesuaian perkataan dan perbuatan. Tetapi, kadang­kadang nilai itu mencapai tingkat yang sedemikian rupa sehingga realitasnya tak terpahami oleh semua orang, dan orang yang unggul hal kesempurnaan rohani dan pengetahuan agama harus memahaminya dan mengajarkannya kepada orang lain.


Sebagian nilai terkadang tak dapat dikenali dengan pikiran biasa manusia. Banyak masalah moral dan hukum dalam sistem nilai Islam hanya ditentukan atas dasar wahyu dan batas-batasnya. Istilah dan detail-detailnya dibataskan oleh Wahyu Ilahi. Misalnya, kita mengetahui secara ringkas bahwa apabila kita berdusta yang menyebabkan orang tak berdosa dibebaskan dari tangan seorang penindas, maka dusta semacam itu bukanlah perbuatan buruk seperti halnya dusta yang lain. Tetapi, sejauh mana dan dengan syarat apa? Itulah masalah-masalah yang ditentukan oleh hukum Ilahi. Jadi, basis nilai terdiri dari kebajikan, sifat-sifat, dan perilaku yang mengangkat dan menyempurnakan jiwa manusia.


*Disarikan dari buku Monoteisme - Ayatullah Taqi Misbah Yazdi