Tuntunan Menjadi Hamba yang Berlepas dari Cinta Dunia


Para Imam Ahlulbait a.s. telah memberikan kepada kita pedoman dan tuntunan hidup supaya kita sebagai makhluk Tuhan yang merdeka tidak menghamba pada dunia. Dan di antara banyak faktor yang berpengaruh dalam memerangi kecintaan pada dunia adalah perhatian dan konsentrasi akal dan hati pada ayat-ayat Ilahi dan kalimat-kalimat suci yang disampaikan oleh para nabi dan manusia-manusia suci a.s. Petunjuk merekalah yang dapat menjadi daya tolak bagi manusia dalam menghadapi dan memerangi berbagai rayuan setan, gemerlap dunia yang sangat menggoda dan bala tentara setan yang menghadang.


Apabila kita mau menelaah dan mengkaji apa yang diucapkan oleh Imam Ali a.s, kita akan mempunyai kekuatan untuk menghadapi serangan bala tentara setan dengan memanfaatkan secara maksimal bala tentara Allah Swt. Kita pun akan dapat lebih memanfaatkan faktor-faktor yang menarik kita ke arah Allah dan nilai-nilai maknawi dan pada saat yang sama melemahkan faktor-faktor setani.


Dalam pandangan Imam Ali, kebanyakan manusia mengarah kepada dunia lantaran melihat kebanyakan orang dan para tokoh masyarakat juga melakukan hal yang sama, sehingga berdasar pada perilaku mereka, disimpulkan bahwa mencintai dan mencari dunia secara berlebihan adalah perbuatan yang baik dan terpuji. Karena menurut beliau dalil yang dipakai ini tertolak, maka beliau berusaha menghilangkannya dari pemikiran manusia.


Rumusan umum yang mengatakan bahwa "Saya harus melakukan apa yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat dan para tokoh agar tidak tertinggal dan terbelakang” menurut Imam Ali adalah sebuah rumusan yang kebenarannya tidak absolut. Beliau menegaskan, bahwa tidak setiap yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat dan para pemukanya, adalah perbuatan yang baik dan terpuji.


Hanya karena sebuah kegiatan dilakukan oleh sebagian orang, kebanyakan orang, atau bahkan semua orang, tidak serta-merta menjadi dalil dan bukti bahwa perbuatan itu baik adanya, tetapi engkau tetap harus mempelajari dan memikirkannya. Apabila menurut pemikiran dan nalarmu, perbuatan itu tidak benar, ikutilah apa kata akalmu. Kalian tidak boleh secara buta mengikuti kebanyakan orang, bahkan semua orang sekalipun. Imam Muhammad Baqir berkata kepada Jabir bin Yazid al-Ju’fi:


“Ketahuilah (wahai Jabir), engkau tidak akan termasuk pengikut kami, kecuali apabila seluruh penduduk kota tempat tinggalmu berkumpul dan menyatakan bahwa kamu adalah seorang laki-laki yang berperilaku buruk, namun kau tidak risau oleh ucapan mereka, atau apabila mereka berkata bahwa kamu adalah orang yang saleh, namun kau tidak bersuka cita dengan pujian mereka. Nilai dan ukurlah dirimu dengan kitab Allah.”


Maksudnya, apabila kita ingin menjadi orang yang berwilayah kepada Ahlulbait a.s. dan pencintanya, kita harus berperilaku untuk tidak sama sekali risau dan khawatir, meskipun seluruh penduduk kota sepakat untuk mencela atas perbuatan yang di dalamnya terdapat rida Ilahi. Serta tetap yakin bahwa karena itu perintah Allah dan taklif kita, maka perbuatan itu baik bagi kita. Jangan pernah mengikuti kebanyakan orang untuk menentang Tuhan. Bahkan, bukan hanya jangan ikuti mereka, tetapi tidak usah risau dan bersedih hati! Biarkan mereka mengatakan apa yang hendak mereka katakan, kita hanya perlu konsentrasi pada apa yang menjadi tugas dari Allah Swt.


Sebaliknya, apabila seluruh penduduk kota memuja dan memuji kita, jangan pernah bergembira dan bersenang hati karenanya. Seorang mukmin, harus sedemikian kuat keyakinan dan agamanya, mendasari setiap perbuatannya dengan dalil dan burhan serta tidak terpengaruh oleh pujian dan pujaan orang lain.


Imam Ali a.s. berkata: “Tidakkah engkau melihat bagaimana penghuni dan pencinta dunia berebut dan saling bunuh atas harta dunia, janganlah engkau menjadi seperti mereka! Jangan sampai engkau berpikir bahwa apa yang mereka perebutkan adalah sesuatu yang penting dan benar-benar berharga, hanya karena sebagian besar mereka melakukan perebutan. Akan tetapi, lakukan telaah dan kajian terlebih dahulu, siapa mereka dan apa yang sebenarnya mereka perebutkan.”


Dalam penjelasannya, beliau mengajak kita untuk bersikap rasional dan bertindak berdasarkan pada dalil dan bukti, lalu memperkenalkan kita pada sifat-sifat buruk kelompok manusia yang mengejar dan cinta buta kepada dunia.


Beliau a.s. berkata: “Mereka laksana anjing-anjing yang menyalak dan binatang-binatang buas yang memangsa.” Mereka saling mencakar dan beradu tanduk. Siapa yang lebih kuat akan mengoyak daging yang lemah lalu melahapnya. Demikianlah sifat kebanyakan penghuni dunia dan penghambanya. Mereka tak pernah berhenti memperebutkan harta dunia.


Nah, apabila kita menyaksikan di sebuah tempat sekawanan anjing dan serigala memperebutkan sesuatu dan saling bunuh, apakah engkau akan ikut­ikutan berebut? Atau karena jumlah mereka banyak dan banyak juga orang-orang yang ternama, maka engkau akan bergabung dan berebut seperti mereka? Oleh sebab itu, apabila engkau menyaksikan sekelompok manusia sibuk dalam suatu pekerjaan, maka terlebih dahulu kamu harus meneliti dan mempelajari, siapakah orang-orang itu, apa yang sedang mereka lakukan, apa tujuan mereka dan apa yang menjadi alasan serta motivasi mereka? Jangan pernah engkau menjadikan jumlah mereka sebagai ukuran kebenaran.


*Prof. Muhammad Taqi Misbah Yazdi - 22 Nasihat Abadi Penghalus Budi