Kiat Mengobati Penyakit Hati



Sebelumnya telah dibahas bagaimana cara mendiagnosa penyakit hati, sekarang kita akan membahas tentang kiat mengobati penyakit hati, masih dari buku Road to Allah karya Kang Jalal.


Cara pertama untuk mengobati penyakit hati adalah dengan mencari guru yang mengetahui penyakit hati kita. Ketika kita datang kepada guru tersebut, kita harus datang dengan segala kepasrahan. Kita tidak boleh tersinggung jika guru itu memberitahukan penyakit hati kita.

Seorang guru harus mencintai kita dengan tulus dan begitu pula sebaliknya, kita harus mencintai guru kita dengan tulus. Apa pun yang dikatakan guru, kita tidak menjadi marah. Kita juga harus mencari guru yang lebih sedikit penyakit hatinya daripada diri kita sendiri.


Baca juga Faktor yang Membuat Hati Tentram dan Semangat


Kedua, mendapatkan sahabat yang jujur. Sahabat adalah orang yang membenarkan, bukan yang membenar-benarkan kita. Sahabat yang baik adalah yang membetulkan kita, bukan yang menganggap apa pun yang kita lakukan itu betul.


Ketiga, jika sulit mendapatkan sahabat yang jujur, kita bisa mencari musuh dan mempertimbangkan ucapan-­ucapan musuh tentang diri kita. Musuh dapat menunjukkan aib kita dengan lebih jujur daripada sahabat kita sendiri.


Keempat, memerhatikan perilaku orang lain yang buruk dan kita rasakan akibat perilaku buruk tersebut pada diri kita. Dengan cara itu, kita tidak akan melakukan hal yang sama. Hal ini sangat mudah karena kita lebih sering memer­hatikan perilaku orang lain yang buruk daripada perilaku buruk kita sendiri.


Baca juga Buruknya Sifat Dengki


Jalaluddin Rumi berkisah, di sebuah kota ada seorang pria yang menanam pohon berduri di tengah jalan. Wali kota sudah berulang-ulang memperingatkannya agar memotong pohon berduri itu. Setiap kali diingatkan, orang itu selalu mengatakan bahwa ia akan memotongnya keesokan hari. Namun, orang itu tidak juga memenuhi janjinya. Setelah beberapa tahun, orang itu bertambah tua, tapi pohonnya yang berduri belum dipotong juga. Pohon itu bahkan bertambah besar, tumbuh seiring dengan waktu. Cabang-cabangnya yang tajam menutupi hampir semua bagian jalan. Duri itu tidak saja melukai orang yang melalui jalan, tapi juga melukai pemiliknya. Sang pemilik kini ingin memotong pohon itu. Tapi apa daya, usianya sudah sangat tua. Ia menjadi amat lemah sehingga tidak mampu lagi untuk menebas pohon yang ia tanam sendiri.


Di akhir kisah itu Rumi memberikan nasihatnya, “Dalam hidup ini, kalian sudah banyak sekali menanam pohon berduri dalam hati kalian. Duri-duri itu tidak saja menusuk orang lain, tapi juga dirimu sendiri. Ambillah kapak Haidar, potonglah seluruh duri itu sekarang sebelum kalian kehilangan tenaga sama sekali.”


Baca juga Kematian adalah Keberuntungan Orang-orang yang Baik


Yang dimaksud Rumi dengan pohon berduri dalam hati adalah penyakit-penyakit hati dalam ruh kita. Bersamaan dengan bertambahnya umur, meningkat pula kekuatannya. Tak ada lagi waktu yang lebih tepat untuk menebang pohon berduri di hati kita selain saat ini. Esok hari, penyakit hati itu akan semakin kuat sementara tenaga kita bertambah lemah. Tak ada lagi daya kita untuk menghancurkannya.