Metode Islam dalam Menumbuhkan Kepedulian Sosial



Akidah Islam telah menumbuhkan rasa peduli sosial dalam sanubari setiap individu dengan berbagai metode dan cara, antara lain:


1. Membangkitkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap nasib orang lain (dalam sanubari setiap individu).


Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan dan penekanan Alquran dan hadis-hadis maksumin a.s.


Baca juga Akidah Islam, Membangkitkan Rasa Toleransi Sosial


Allah Swt berfirman: Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian), karena mereka akan ditanya. [QS. ash-Shaffat: 24]


Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari (sengatan) api neraka. [QS. at-Tahrim: 6]


Rasulullah saw bersabda: “Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin, dan setiap orang dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib orang-orang yang dipimpinnya. Setiap orang yang memegang urusan sekelompok manusia adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas nasib rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib keluarganya. Seorang istri hendaknya mengurus rumah suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib mereka.” [Shahih Muslim, 3/1459]


Baca juga Peran dan Manfaat Akidah untuk Kehidupan Manusia


Amirul mukminin a.s. berkata: “Takutlah kepada Allah berkenaan dengan hamba-hamba dan negeri-Nya ini, karena kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas tanah dan binatang (yang kamu miliki, apalagi atas hamba-hamba dan negeri-Nya itu)” [Nahjul Balaghah, khotbah ke-167]


Agama Islam tidak hanya mementingkan tanggung jawab individu terhadap masyarakatnya di dunia saja, akan tetapi ia juga berusaha untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab di dalam sanubarinya terhadap Penciptanya di dunia lain kelak. Dengan ini, ia akan berusaha untuk menguasai hawa nafsunya dan peduli terhadap orang lain tanpa harus ada undang-undang resmi dan respon masyarakat atau rasa iba yang memaksanya.


2. Menumbuhkan jiwa berkorban dan lebih mementingkan orang lain.


Alquran yang mulia menganjurkan para pengikutnya untuk lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri dan memuji jiwa berkorban yang dimiliki oleh muslimin. Ketika Imam Ali a.s. rela mengorbankan jiwanya demi Rasulullah saw hidup dengan tidur di atas ranjang beliau (pada peristiwa Lailatul Mabit), Allah Swt memuji jiwa berkorban yang ia miliki tersebut dalam firman-Nya:


Dan ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. [Tafsir Majmaul Bayan 1/174]

Al-Fakhrur Razi menulis: “Ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib a.s. ketika ia tidur di atas ranjang Rasulullah saw di malam keluarnya beliau menuju gua Tsaur.


Diriwayatkan, ketika ia tidur di atas ranjang beliau, Jibril berdiri di arah kepalanya dan Mikail di arah kakinya. Jibril berkata: “Alangkah bahagianya engkau, hai Ali bin Abi Thalib. Allah telah membanggakanmu di hadapan malaikat. Lalu turunlah ayat itu.” [At-Tafsirul Kabir 5/223]


Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Rasulullah saw adalah suri teladan utama dalam mementingkan orang lain dan jiwa berkorban. Diriwayatkan, beliau tidak pernah makan hingga kenyang selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat. Jika beliau menghendaki, semua kekayaan berada di bawah tangan beliau. [Tanbih al-Khawathir, Amir Al-Warram 1/172]


3. Menumbuhkan rasa kebersamaan.


Sehubungan dengan hal ini kita memiliki beberapa hadis yang menganjurkan setiap individu untuk hidup bersama dan tidak memisahkan diri dari masyarakat (jamaah). Hal ini karena telah terbukti secara nyata bahwa hidup bersama akan menyebabkan kokohnya fondasi masyarakat, dan Allah Swt akan menganugerahkan kebaikan dan berkah kepada sebuah masyarakat yang hidup bersama.


Baca juga Saling Tolong Menolong di Antara Kaum Muslimin


Rasulullah saw bersabda: “Allah bersama kelompok, sedangkan setan bersama orang-orang yang menentang hidup berkelompok.” [Kanzul Ummal, 1/206]


Dalam hadis lain beliau bersabda: “Barang siapa yang keluar dari hidup berkelompok satu jengkal, maka ia telah melepaskan dirinya dari tali Islam.” [Kanzul Ummal, 1/1036]


Dari hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa Islam adalah agama sosial yang selalu berusaha semaksimal mungkin merangsang setiap individu hidup secara berkelompok. Ringkasnya, terdapat beberapa situasi dan kondisi yang menuntut setiap individu untuk bergabung dengan jamaah dan meleburkan diri di dalamnya, seperti jihad, salat berjamaah di masjid dan belajar di pusat-pusat pendidikan.


Sumber: Markaz ar-Risalah