Sedekah sebagai Penolak Bencana

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda: “Perbuatan-perbuatan baik akan melindungi kita dari berbagai keburukan dan sedekah yang dilakukan sembunyi-sembunyi akan menghindarkan diri kita dari siksa Tuhan.”


Hadis ini mengajak kita untuk melakukan berbagai kebaikan, di antaranya sedekah. Perbuatan baik yang kita lakukan, baik sedekah atau pun perbuatan-perbuatan baik lainnya dapat menjadi sebab terhindarnya kita dari bermacam-macam keburukan dan berbagai musibah. Oleh karena itu sebagai kaum muslim, marilah kita bersedekah dan melakukan berbagai kebaikan di masa-masa sulit seperti sekarang ini di mana pandemic Covid-19 belum juga selesai.


Baca juga Luasnya Makna Sedekah


Sedekah yang kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, tidak harus banyak. Kita sesuaikan dengan kemampuan kita masing-masing. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah Saw bersabda: “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sedekah separuh dari biji kurma.”


Sedekah sebagai penolak bencana juga banyak diriwayatkan dalam berbagai kitab hadis lain;


Baca juga 7 Sedekah yang Paling Utama


Rasulullah Saw bersabda: “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (Kanz al-Ummal, hadis ke-15982; Diriwayatkan juga oleh Thabrani)


Rasulullah Saw bersabda: “Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu keburukan.” (Bihar al-Anwar, juz 96, hal. 132, hadis ke-64)


Rasulullah Saw bersabda: “Bersedekahlah kalian dan obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, karena sesungguhnya sedekah itu menolak bencana dan penyakit, dan sedekah itu juga menambah umur serta kebaikan kalian.” (Kanz al-Ummal, hadis ke-16113)


Baca juga Mari Bersedekah di Dana Mustadhafin, Lembaga yang Amanah dan Terpercaya


Imam Ali as berkata: “Sedekah itu adalah obat yang manjur.” (Nahj al-Balaghah, hikmah ke-7)