Belajar Kedermawanan dari Sosok Imam Ali Sajjad


Imam Ali bin Husain as-Sajjad dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan dan penyayang terhadap fakir miskin. Beliau senantiasa memenuhi kantungnya dengan roti dan makanan lalu membagikannya kepada fakir miskin di waktu gelap malam. Beliau mengatakan bahwa sedekah yang diberikan dalam kegelapan malam akan memadamkan amarah Tuhan.


Imam Muhammad Baqir a.s. berkata: “Ayahku di malam-malam yang gelap memanggul kantung yang dipenuhi dengan kantung-kantung dinar, dirham, serta makanan. Beliau mengetuk pintu-pintu rumah orang-orang miskin dan membagikan dirham, dinar, serta makanan itu kepada mereka dalam keadaan mukanya tertutup agar tidak dikenali. Sepeninggal Imam, Orang-orang fakir baru memahami bahwa lelaki yang tak dikenal itu adalah Ali bin Husain.”


Baca juga Dialog Imam Sajjad dan Orang Asing tentang Salat


Di Siyar A'lam al-Nubala, Adz- Dzahabi menuliskan: “Orang-orang Madinah selama hidupnya tidak mengetahui dari mana kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Namun setelah wafatnya Imam Sajjad, makanan-makanan mereka pun terhenti.”


Ketika malam hari Imam memikul roti di pundaknya dan membawanya ke rumah-rumah orang yang membutuhkan. Akibat sering memikul karung, bekas pikulan tersebut nampak di pundaknya. Hal ini diketahui ketika tubuhnya yang suci dimandikan saat wafatnya. Ibnu Sa'ad menulis dalam ath-Thabaqat: “Ketika orang-orang yang butuh datang menemui Imam Sajjad, ia pun bangkit dan memenuhi kebutuhan mereka. Ia berkata, ‘Sebelum sedekah sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkan, ia akan sampai kepada Allah Swt.’”


Baca juga Belajar Kedermawanan dari Sosok Imam Hasan Mujtaba


Kedermawanan Imam Sajjad begitu masyhur di Madinah, hingga dikisahkan suatu hari sahabat dan kerabatnya yang bernama Abdullah dalam keadaan sekarat didatangi oleh para penagih utang. Ia berkata: “Aku tidak memiliki sesuatu untuk kuberikan kepada kalian. Namun, aku berwasiat kepada salah seorang anak pamanku, Ali bin Husain dan Abdullah bin Ja’far, agar membayar utang kalian. Pilihlah yang kalian suka.”


Mereka berkata: “Abdullah bin Ja’far memang kaya tetapi Ali bin Husain walaupun tidak memiliki banyak harta, jujur dan kami lebih memilihnya.”


Hal ini diberitakan kepada Imam Ali bin Husain a.s. dan beliau berkata: “Piutang kalian akan kubayar saat ladangku panen.” Kebetulan, ketika panen Allah Swt memberikan panen yang melimpah sehingga Imam dapat menunaikan utang Abdullah.


Baca juga Kedermawanan yang Paling Utama


Diriwayatkan juga bahwa ketika Zaid bin Usamah sakit keras, Imam Ali bin Husain yang tengah berada di situ. Zaid pun berwasiat kepada Imam: “Aku berutang sebanyak 15.000 dinar dan tidak dapat membayarnya. Aku khawatir mati dalam keadaan berutang.’”

Imam Sajjad berkata: “Janganlah engkau bersedih karena aku akan mengemban utangmu dan akan kubayar.”


Dan diriwayatkan juga tatkala Madinah diserang oleh pasukan Yazid (di bawah pimpinan Muslim bin Aqabah), Imam Ali bin Husain menjamin penghidupan 400 keluarga hingga pasukan Muslim bin Aqabah meninggalkan Madinah.


Sumber: Para Pemimpin Teladan - Ayatullah Ibrahim Amini; Wikishia