Belajar Kedermawanan dari Sosok Imam Hasan Mujtaba

Diperbarui: 19 Apr


Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib al-Mujtaba lahir pada 15 Ramadhan 3 H. Beliau adalah cucu pertama Rasulullah saw dari buah pernikahan Sayidah Fathimah dan Imam Ali bin Abi Thalib. Imam Hasan adalah anggota keluarga yang Allah perintahkan untuk dicintai, dan salah satu pusaka yang sangat berharga (tsaqalain), yang jika manusia berpegang teguh pada keduanya, akan selamat dan akan terjerumus pada kesesatan.


Sifat mulia telah mengejawantah dalam bentuk setinggi-tingginya dan dalam makna semulia-mulianya pada diri beliau, sehingga beliau digelari orang dermawan dari kalangan Ahlulbait. Beliau memandang harta sama sekali tidak berharga kecuali yang dapat membebaskan orang lapar, memberi pakaian orang yang telanjang, menolong orang yang menderita, atau menyelamatkan agama orang yang terbelit utang.


Baca juga Memenuhi Kebutuhan Orang Lain


Diriwayatkan beliau memiliki mangkuk besar yang dipersiapkan untuk para tamu. Beliau tidak pernah mengatakan 'tidak' pada orang yang meminta kepadanya. Sahabatnya pernah menanyakan pada beliau: “Kami tidak pernah melihat Anda menolak orang yang meminta apa pun?”

Beliau menjawab: “Sesungguhnya kepada Allah-lah aku meminta dan kepada-Nya aku berharap. Aku merasa malu menjadi peminta minta, sementara aku menolak orang yang meminta (kepadaku). Sesungguhnya Allah membuat suatu kebiasaan padaku, yaitu dengan menurunkan nikmat-nikmat-Nya kepadaku, dan aku pun membiasakan diri menyebarkan nikmat-Nya kepada manusia. Aku takut kalau kebiasaan itu terputus; maka akan mencegah kebiasaan (Allah) itu padaku.” (Thabaqat al-Kubra, 1/23)


Suatu hari, Imam melewati seorang budak hitam yang memegang sepotong roti. Sebagian roti itu dimakan untuk dirinya sendiri dan sebagiannya lagi diberikan pada seekor anjing. Imam bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu melakukan itu?”


Baca juga Merawat Iman dengan Menjadi Dermawan


Ia menjawab: “Sungguh aku malu bila aku makan sementara tidak memberi makan pada anjing itu.”


Dalam kasus ini, Imam Hasan menyaksikan sebuah teladan baik, sehingga beliau berniat memberinya hadiah atas perbuatan baiknya itu. Beliau berkata padanya: “Jangan bergeser dari tempatmu!”


Kemudian beliau mendatangi tuan dari budak itu untuk membelinya. Beliau juga membeli kebun yang ditinggali budak itu, memerdekakannya, serta menghadiahkan kebun itu kepadanya. (Bidayah wa al-Nihayah, 8/38)


Diriwayatkan bahwa seorang budak wanita menghormati Imam Hasan dengan seikat selasih. Imam berkata kepadanya: “Engkau merdeka karena kekuasaan Allah.”


Anas bin Malik bertanya kepadanya, dan dijawab Imam: “Allah Swt mengajarkan kita dalam firman-Nya, Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya [QS. an-Nisa: 86], dan yang lebih baik darinya adalah memerdekakannya.” (al-Manaqib Ibnu Syarasyub, 2/23)


Kedermawanannya tidak sebatas itu, bahkan saat Imam sedang tidak memiliki apa pun. Pernah Seorang fakir mendatangi beliau dan mengeluhkan keadaannya. Kebetulan hari itu beliau tak memiliki apa pun. Masalahnya menjadi rumit, namun beliau malu menolaknya. Beliau berkata padanya: “Aku akan menunjukkan Anda sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi Anda.”


Baca juga Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib kepada Kaum Muslimin


Fakir itu berkata: “Wahai putra Rasulullah, apakah itu?”


Beliau berkata: “Pergilah pada khalifah. Putrinya meninggal dan ia merasa berduka karenanya. Ia belum mendengar ungkapan belasungkawa yang mendalam dari seorang pun. Muliakanlah ia dengan ungkapan belasungkawa ini yang akan mendatangkan kebaikan bagi Anda.”


Orang fakir itu berkata: “Wahai putra Rasulullah, buatlah aku hafal ungkapan itu!”

Beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menutupinya (putrimu) dengan duduknya engkau di atas kuburnya, dan Dia tidak mencabik-cabiknya dengan duduknya ia di atas kuburmu (maksudnya, kalau engkau meninggal lebih dulu, anakmu akan ditinggal dalam keadaan yatim dan tanpa perlindungan orang tuanya).”


Fakir itu menghafal kata-kata beliau dan mendatangi khalifah. Lalu ia berbelasungkawa dengan kata-kata itu, hingga hilang kesedihan khalifah. Kemudian khalifah memerintahkan memberinya hadiah. Khalifah berkata kepadanya: “Apakah itu kata katamu sendiri?”

la menjawab: “Bukan, itu adalah kata-kata Imam Hasan.”


Khalifah berkata: “Engkau benar. Sesungguhnya ia adalah khazanah kata -kata yang fasih.” (Nur aAbshar, hal. 135)


*Disarikan dari buku Teladan Abadi, Hasan Mujtaba – Penerbit Al-Huda