Buruknya Sifat Kikir

Diperbarui: 7 Feb



Di antara akhlak tercela yang harus dihindari adalah sifat serakah dan kikir. Dalam Islam, perkara harta adalah urusan muamalah dengan lingkungan sekitar. Jika seorang muslim memiliki harta berlebih, maka pada harta itu, ada sebagian hak fakir dan miskin. Karena itulah, Allah Swt memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat, khumus, sedekah, infak, dan lain sebagainya.


Baca juga Buruknya Sifat Rakus


Salah satu tujuan perintah tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran sosial orang Islam untuk saling tolong menolong, menghindari sifat serakah, kikir, dan bakhil. Selain itu, jika harta ditahan dan tidak dikeluarkan, maka harta itulah yang akan menjadi sebab dari azab Allah Swt di akhirat. Allah Swt berfirman:


Janganlah sekali-kali orang-orang menjadi kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya. Mereka mengira bahwa [kikir] itu baik bagi mereka, padahal [kikir] itu buruk bagi mereka. Maka [harta] yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan [di leher] pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan [apa yang ada] di langit dan di bumi. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran: 180)


Lantas, apa sebenarnya makna kikir dalam Islam?, mari kita merujuk pada beberapa ayat dan riwayat:


Allah Swt berfirman: (Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS. an-Nisa: 37)


Baca juga Janji Allah Swt, Harta yang Diinfakkan Akan Diganti


Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Sesungsuhnya orang kikir adalah pribadi yang kikir dengan apa yang ada di tangannya sendiri. Sedangkan orang tamak adalah pribadi yang tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain dan apa yang ada di tangannya sendiri. Sehingga, setiap kali dia melihat sesuatu di tangan orang lain, maka dia berhasrat agar sesuatu itu menjadi miliknya, baik dengan cara halal maupun haram. Dia tidak pernah merasa puas dan tidak pula mengambil manfaat dari apa yang Allah berikan kepadanya.” (Thuhaf al-Uqul, hadis ke-371 &372)


Imam Ali Hadi as berkata: “Kikir merupakan akhlak paling tercela.” (Bihar al-Anwar, 72/199)


Dan bagaimana orang yang kikir itu? mari kembali kita merujuk pada beberapa riwayat:


Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya orang kikir yang sebenarnya adalah pribadi yang enggan mengeluarkan zakat yang diwajibkan atasnya dalam hartanya dan menolak untuk memberikan (sebagian hartanya) kepada kaumnya. Tetapi pada selain keduanya itu, dia memboroskan hartanya.” (Ma’ani al-Akbar, hal. 245, hadis ke-4)


Baca juga Hiduplah Secara Bersahaja


Imam Ali as berkata: “Sungguh, aku sangat heran terhadap orang kikir! Dia menyegerakan kemiskinan yang dihindarinya dan tertinggal dari kekayaan yang dikejarnya. Oleh karena itu, dia hidup di dunia seperti kehidupan orang-orang miskin, sementara di akhirat kelak, amal perbuatannya dihitung sebagaimana perhitungan amal perbuatan orang-orang kaya.” (Bihar al-Anwar, 72/199)


Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Cukup orang kikir dengan kekikirannya, dia berburuk sangka terhadap Tuhannya. Barang siapa meyakini pengganti (dari Allah), niscaya dia bersungguh-sungguh dalam memberi.” (Bihar al-Anwar, 73/307)


Celaan Terhadap Orang yang Kikir


Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang paling sedikit ketenagannya adalah orang kikir.” (Bihar al-Anwar, 73/300)


Imam Shadiq as meriwatkan bahwasanya Amirul mukminin (Ali bin Abi Thalib) as pernah mengirim lima wasak (ukuran berat pada masa itu) kurma kepada seorang laki-laki. Kemudian seseorang berkata kepada Amirul mukminin as: “Demi Allah, dia tidak meminta kepadamu. Sesungguhnya cukup baginya satu wasak saja daripada lima wasak.”

Amirul mukminin as berkata kepadanya: “Semoga Allah tidak memperbanyak orang sepertimu di kalangan orang-orang mukmin! Aku memberi, sedangkan kamu berbuat kikir?” (Bihar al-Anwar, 77/209)


Imam Ali as berkata: “Kekikiran merupakan penghimpun semua cela terburuk dan tali kekang yang menyeret pada segala keburukan.” (Bihar al-Anwar, 73/307)