Cara Meningkatkan Kepribadian Anak dan Pendidikannya


Pembahasan ini diawali dengan pengetahuan bagi orang tua tentang cara menyucikan jiwa sehingga nantinya mampu mendidik jiwa anaknya. Akan tetapi masalah ini akan diuraikan secara metodologis sehingga pembicaraan ini hanya terfokuskan pada cara yang harus dilakukan oleh para orang tua dalam rangka menyelamatkan anak-anaknya dari sifat jelek dan hina. Untuk menyembuhkan sifat-sifat negatif ini, dan untuk mengembangkan kepribadian anak secara sempurna, berikut kami kutipkan trik dari Dr. Husain Mazahiri dalam bukunya Pintar Mendidik Anak beberapa metode yang harus dilakukan.


Pertama: Bersikap Tidak Membedakan


Salah satu cara yang salah, yang sering dilakukan oleh para bapak dan ibu, yang membuat anaknya menjadi jahat adalah sikap membedakan antar anak. Sikap membedakan yang demikian ini akan meninggalkan pengaruh negatif pada kejiwaan anak. Pengaruh negatif ini akan berkembang seiring dengan berkembangnya kedewasaan yang kemudian akan mengantar mereka pada kehancuran, bahkan tak jarang pengaruh negatif ini menular pada anak cucu mereka.


Baca juga: Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak


Ayah atau ibu harus bersikap sama terhadap anak-anaknya dalam segala hal, baik dalam memberi cinta kasih, penghormatan, maupun dalam pembagian harta warisan, pembagian hadiah, dan pemberian-pemberian lain. Misalnya, jika seorang anak perempuan datang bersama suaminya atau anak laki-laki datang bersama istrinya berkunjung ke rumah orang-tuanya, orang tua harus bersikap sama dalam memberikan penghormatan, cinta, dan cara penyambutan. Jika sikap demikian tidak dilakukan, maka perselisihan antara anak laki-laki bersama istrinya dan anak perempuan bersama suaminya tersebut tidak dapat dihindarkan, yang pada akhimya muncul benih perpecahan dan kemunafikan yang di dalamnya tersimpan semua sifat hina. Semua ini adalah akibat sikap tidak adil dari para ayah dan ibu yang tidak mengindahkan tanggungjawab besarnya ini.


Kedua: Perhatian dan Pengarahan yang Baik


Salah satu sarana untuk menghindarkan anak dari sifat jahat adalah dengan pendekatan psikologis, bersikap seperti anak dan mengajak bicara dengan bahasa yang mudah dipahami olehnya. Seorang ibu atau ayah dapat membawa anaknya yang dengki dalam pangkuannya dan diajak bicara dengan bahasa cinta; misal diterangkan kepadanya tentang bahaya dengki dengan menggunakan contoh cerita Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya yang menghasud serta apa yang mereka perbuat terhadapnya.


Seorang ayah dan ibu dapat mendekati anaknya dan mengajaknya bicara dengan lemah lembut tentang akibat dari mengganggu atau menyakiti saudaranya, mengingatkan tentang akhirat dan kiamat, sesuai kemampuan akalnya. Hal itu merupakan cara mendidik yang tepat untuk menghindarkan anak dari sifat jelek.


Apabila orang tua memperhatikan bahwa salah satu anaknya yang sudah berumur 10 tahun bersikap sombong, tidak peduli pada adiknya, misalnya datang dari pasar membawa sesuatu, lalu dimakan sendiri tanpa memberi suadara lainnya, maka orang tua hendaknya tidak langsung bereaksi dan marah kepadanya. Tapi perlu menunggu kesempatan tepat, baru kemudian sang ayah menjelaskan sikap buruk yang dilakukan anaknya tersebut dengan penuh kasih sayang. Diberitahukan bahwa sikap tersebut tidak sesuai dengan akhlak yang baik dan bertentangan dengan nilai kemanusiaan.


Dasar teori pendidikan yang demikian ini, dan nilai pembicaraan serta nasihat yang lemah lembut ini pada Alquran surah Thaha ayat ke-44: “Maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)


Ketiga: Menanamkan Takwa dalam Jiwa


Seluruh dosa, sumbernya adalah sifat-sifat yang hina. Oleh karenanya Alquran menerapkan sebuah teori yang tercantum dalam firman-Nya: “Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” Ayat ini menjelaskan bahwa hati dan jiwa manusia akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya dalam bentuk sikap dan perangai. Apabila hatinya keras dan gelap, pasti perangai orang tersebut penuh dosa.


Untuk menyelamatkan diri dari dosa, jalan keluarnya adalah menanamkan ketakwaan dalam jiwa. Apabila tangkai-tangkai pohon kejahatan itu layu dan daun-daunnya rontok berjatuhan, maka akar-akarnya pun akan tumbang dan mati. Artinya, dalam kehidupan sosial, anak yang sombong dan kikir, atau secara umum memiliki perangai buruk, dapat meninggalkan semua dosa yang bersumber dari sifat-sifat hina ini. Jika seseorang bisa meninggalkan kebiasaan menggunjing orang lain atau melukainya, maka kemampuan sikap tersebut akan menjadikan dia terselamatkan dari dosa kedengkian dan mampu memangkas akar-akarnya dari dalam jiwa.


Begitu juga halnya orang yang sombong; dia dapat menghadapi sifat ini dan memangkasnya dengan cara menghindari berbicara dengan orang lain, melukai atau berbuat kasar kepada mereka. Jika orang seperti ini bisa menahan mulutnya di berbagai majelis, tidak ikut terjun di dalamnya, tidak memuji dan membanggakan diri, maka dengan sendirinya akar-akar kesombongan akan bersih dari jiwanya. Namun kemampuan melaksanakan metode ini tergantung pada meresapnya ketakwaan dan kekuatannya dalam jiwa.


Baca juga: Faktor-faktor yang Membentuk Kepribadian Anak


Keempat: Berlindung Kepada Allah


Cara yang tersebut di atas, tidak hanya berkaitan dengan pendidikan anak dan upaya menyelamatkan mereka dari sifat-sifat buruk saja, akan tetapi juga merupakan salah satu cara pendidikan umum yang mencakup anak-anak maupun orang dewasa. Pokok utama dalam metode keempat ini adalah bertawassul dan bertawajuh kepada Allah, berdoa dan memohon agar diberi hati dan jiwa yang bersih serta sifat-sifat yang terpuji. Sebab, masalah penyucian jiwa berkaitan langsung dengan karunia Allah dan pemberian dari-Nya, sementara peran manusia hanyalah berusaha dan menyiapkan diri sepenuhnya. Selebihnya, sifat-sifat kesucian hati dan jiwa sangat berkaitan dengan karunia dan rahmat Ilahiyah.


Allah SWT berfirman: “Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, maka tak seorang pun dari kamu menyucikan jiwanya, akan tetapi Allah menyucikan orang yang dikehendaki.


Coba kita perhatikan, misalnya dalam satu keluarga, anaknya terkena penyakit parah, maka sang ayah akan berusaha maksimal untuk berdoa dan bertawassul serta bernazar kepada Allah agar anaknya segera sembuh. Sikap yang sama, seharusnya dilakukan pula oleh orang tua ketika melihat sifat dengki menjangkiti jiwa anaknya.


Dana Mustadhafin

#PedulidanTerpercaya