Faktor-faktor yang Membentuk Kepribadian Anak


Ketidakpedulian orang tua terhadap keadaan dapat menghancurkan kepribadian anak yang kemudian akan mendorong terjadinya praktik penyimpangan pada anak. Oleh karena itu, pertanyaan yang muncul adalah; Apa yang harus kita lakukan agar dapat membangun kepribadian anak atas dasar prinsip-prinsip yang benar dan kuat?


Berikut ini beberapa langkah tepat dan terang yang dapat dijadikan petunjuk, yang kami dikutip dari buku karya Ali Qaimi, Pintar Mendidik Anak.


Pertama: Peranan Cinta Kasih dalam Pembinaan Kepribadian


Para ibu hendaknya jangan membiarkan anak-anaknya jadi korban panti asuhan, sebab lembaga-lemabaga tersebut tidak dapat memberi kepuasan cinta kasih seorang ibu pada anak. Seorang ibu hendaknya berusaha keras mengasuh dan memberi kepuasan cinta kasih pada anaknya, misalnya dengan sering mengelus kepalanya sebagai ungkapan rasa cinta. Para ayah juga harus memperhatikan kebutuhan cinta kasih anak-anaknya, mendudukkan mereka di pangkuannya atau di sebelahnya sebagai tanda kasih terhadap mereka.


Baca juga: Memilih Teman yang Baik Bagi Anak.


Cinta kasih inilah yang sebenarnya mampu membina kepribadian anak. Anak yang tumbuh besar karena disusui orang lain atau karena susu buatan, atau dititipkan pada panti asuhan atau lembaga penampungan anak, akan tumbuh besar tanpa memiliki kepribadian yang matang. Sebab, orang yang dibesarkan tanpa pengawasan kedua orang tua atau tidak pernah merasakan cinta kasih dan susu seorang ibu sama sekali, sejak semula kepribadiannya telah hancur dan selanjutnya dia lebih berpotensi pada tindakan kejahatan jika dibandingkan dengan mereka yang berada dalam kasih sayang orang tua.


Rasulullah ﷺ berpendapat bahwa orang yang tidak pernah mencium anaknya adalah tanda bahwa rahmat Allah telah dicabut darinya.


Kedua: Tidak Menghina dan Tdak Mengurangi Hak Anak


Orang-tua hendaknya berhati-hati, jangan sampai menghina anak-anaknya karena penghinaan adalah suatu tindakan yang tidak boleh dilakukan dalam pendidikan. Membentak anak sekali pun ia masih sangat kecil, berarti penghinaan dan celaan terhadap kepribadiannya sesuai kepekaan jiwanya.


Penghinaan orang tua terhadap mereka telah memberi dampak negatif pada pribadi mereka. Dampak negatif ini tumbuh dan berkembang hingga menghancurkan kepribadian dan mengubah manusia menjadi ahli maksiat dan penjahat yang tidak lagi peduli dengan perbuatan dosa dan haram. Dalam hal ini yang paling berbahaya adalah hinaan orang tua terhadap anaknya di hadapan orang lain, baik teman atau keluarga.


Para ayah dan ibu hendaknya berhati-hati; jangan sekali-kali membanding-bandingkan atau mengutamakan saudara laki-laki atas saudara perempuan atau sebaliknya, apapun kelebihan atau kekurangan yang ada pada mereka. Cara demikian bersumber dari kebodohan dan ketidaktahuan akan prinsip-prinsip pendidikan yang hanya akan meninggalkan pengaruh negatif yang menghancurkan kepribadian anak. Pengaruh-pengaruh tersebut tanpa disadari akan berkembang menjadi besar seiring dengan perkembangan tubuhnya.


Baca juga: Memotivasi Anak untuk Melakukan Hal Positif.


Orang-tua hendaknya bertingkah laku dan bersikap adil terhadap anak-anaknya. Mereka juga dituntut untuk memberikan contoh kepribadian yang baik kepada anak-anaknya melalui sikap dan perangainya. Di meja makan misalnya, pribadi anak harus dijaga. Ia harus diberikan makanan yang layak sehingga harga diri dan kedudukannya tidak merasa tersisihkan, baik ketika berada di antara anak-anak maupun orang-orang dewasa. Demikian juga, ketika membagi makanan; hendaknya anak diperlakukan sama sehingga dia merasa memiliki harga diri yang sama di antara keluarga. Seorang anak hendaknya juga diberikan makanan, piring, dan sendok yang khusus, persis seperti kita memperlakukan orang dewasa.


Ketiga: Perhatian pada Perkembangan Kepribadian


Rasulullah bersabda: "Anak adalah sebagai tuan selama tujuh tahun [pertama], sebagai pembantu selama tujuh tahun [kedua] dan sebagai wazir selama tujuh tahun [ketiga]. Jika kamu masih mampu membantunya di saat umur 20 tahun, bantulah dia. Jika tidak mampu, lepaskanlah dia. Maka selesailah sudah tanggung jawabmu di hadapan Allah."


Pada tujuh tahun pertama dan kedua hendaknya orang tua membantu perkembangan kepribadian anaknya dengan memberikan kasih sayang dan cinta. Seorang ibu sebaiknya memberikan hadiah kepada anak putrinya jika melakukan pekerjaan rumah. Seorang ayah pun hendaknya memberikan motivasi pada anak laki-lakinya dan memberi hadiah setimpal dengan pekerjaan yang telah dikerjakannya. Hal ini akan terealisasi jika di rumah terbentuk suasana penuh kasih dan cinta serta bahasa yang ramah.


Ada pun pada tujuh tahun ketiga perlakukanlah anak sebagai wazir (menteri). Artinya, hubungan antara seseorang ayah dan anaknya yang sudah berusia 18 atau 20 tahun, hendaknya berlangsung berdasarkan prinsip penghormatan dan musyawarah, sebagaimana hubungan seorang raja dengan menterinya. Pada usia seperti itu, orang tua berhak memanfaatkan kemampuan anaknya untuk melakukan beberapa pekerjaan, akan tetapi dengan bermusyawarah. Bukan seperti yang dilakukan sebagian orang tua yang menyuruh dan melarang anaknya dengan perkataan yang menyakitkan dan melukai pribadi anak.


Sebagai contoh, seorang ayah dapat menanyakan pendapat anaknya tentang pelaksanaan pekerjaan tertentu. Melalui cara itu anak dapat diarahkan pada pekerjaan tersebut, tanpa harus dipaksa atau diperintah. Tujuan itu satu, sedangkan cara-caranya bisa berbeda. Adapun hasil yang diraih adalah terbentuknya bangunan pribadi yang baik.


Keempat: Menghindari Penggunaan Kata Kotor


Ada sebagian keluarga dimana para ayah dan ibu selalu menggunakan kata kotor ketika berbicara dengan anak-anak mereka. Padahal pada setiap tempat, terjaganya lingkungan masyarakat akan tergantung pada istilah-istilah dan ungkapan bahasa yang digunakan oleh ayah dan ibu kepada putra-putrinya.


Misalnya seorang ibu mendoakan yang jelek kepada putrinya dan berharap agar anaknya tidak berhasil serta merendahkan pribadi putrinya dengan membandingkan secara negatif dengan Wanita-wanita lain. Sikap semacam ini dapat merusak saraf putrinya dan merampas kemampuan alaminya untuk mengatur urusan suami dan anak-anaknya di masa depan. Sikap ini secara tidak langsung menjadikan masa depan putrinya lemah sehingga tidak dapat melaksanakan tugasnya sebagai istri yang baik.


Hal ini tidak berarti orang tua harus meninggalkan tanggung jawabnya untuk memberi pengarahan kepada anak-anaknya. Akan tetapi pengarahan dan perintah tersebut harus berbentuk musyawarah, dengan bahasa yang halus, serta tidak menggunakan bentakan dan reaksi. Cara demikian merupakan kebiasaan yang dilakukan Rasulullah ﷺ dan keluarganya yang mulia.


Baca juga: Mempersiapkan Masa Depan Anak dengan Hati.


Dalam Alquran Allah ﷻ berfirman: “Dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah." (QS. Ali Imran: 159).


Perintah Alquran ini menunjukkan penghormatan Rasulullah terhadap sahabat-sahabatnya dengan menggunakan musyawarah, di mana musyawarah tersebut dapat mendorong perkembangan dan pembinaan kepribadian mereka. Sementara perintah terakhir hanya diarahkan kepada Rasulullah saja, "Jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah".


Para orang tua dapat mengambil manfaat dari kandungan ayat ini dalam membina dan mendidik anak-anak mereka berdasarkan prinsip-prinsip kepribadian yang kuat dan sempurna. Islam sangat menjunjung tinggi pendidikan seorang muslim dengan tetap menjaga kesucian lisan dan menjauhkan cemoohan serta kata-kata kotor.


Dana Mustadhafin

#PedulidanTerpercaya