Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak



Bila kita mengkaji berbagai riwayat dan hadis yang berkaitan dengan pendidikan anak, akan ditemukan adanya penekanan-penekanan bahwa pendidikan merupakan bagian dari hak-hak mereka. Dalam riwayat, Rasulullah ﷺ mengatakan: "Hak anak atas ayahnya adalah ayahnya mengajarinya Alquran dan memanah hendaknya tidak memberi makan kecuali dari yang halal."


Ilmu yang dimaksud dalam berbagai riwayat yang apabila orang tua tidak mengajarkan kepada anak-anaknya dianggap salah, adalah ilmu pengetahuan umum yang berkaitan dengan kepentingan duniawi dan kehidupan anak. Misalnya, pendidikan formal dengan segala tingkatannya hingga perguruan tinggi. Terpenuhinya pendidikan anak dalam ilmu umum termasuk salah satu bagian penting dari kemuliaan pribadi anak, dan ini harus betul-betul dijaga oleh orang tua.


Ilmu pengetahuan selanjutnya yang wajib diajarkan adalah yang berkaitan langsung dengan kehidupan dan hidup mereka. Banyak hadis yang menyarankan orang tua mengajari anak-anaknya hal-hal yang diperlukan dalam hidup, misalnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Ajarilah anak-anak kamu semua renang dan memanah."


Dalam kehidupan bermasyarakat, kita melihat seorang perempuan meraih gelar pendidikan sarjana atau di bawahnya. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana cara menggendong anak kecil yang masih menyusu atau cara memakaikan pakaiannya. Kesalahan yang demikian ini terpulang kepada ibunya karena tidak pernah mengajarkan hal itu kepada putrinya.


Bac juga: Memotivasi Anak untuk Melakukan Hal Positif


Setinggi apa pun jenjang pendidikan yang diraih oleh seorang istri atau apa pun bentuk gelar yang ia sandang, tetap tidak selayaknya ia membiarkan dirinya tidak tahu bagaimana cara menyiapkan makanan untuk suami atau untuk tamu yang sedang berkunjung ke rumahnya.


Gelar sekolah dianggap suatu kelebihan bagi pribadi seorang wanita tapi ketidaktahuan cara hidup berumah tangga merupakan kekurangan yang merugikan bagi seorang istri. Kesalahan itu pun juga kembali kepada ibunya yang tidak mengajarkannya pada putrinya sejak awal.


Jika seorang anak laki-laki ingin membangun rumah tangga dan berdikari sendiri maka kedua orang tua harus mengajari bagaimana cara menjaga istri, dan bagaimana caranya menjaga diri sebagai laki-laki yang simpatik. Seorang ayah harus duduk bersama putranya dan mengajaknya bicara dengan bahasa yang lembut; jangan sampai marah atau emosi di saat berbicara. Seorang ayah harus mengajari anak laki-lakinya kriteria kehidupan suami istri yang baik serta cara menggauli seorang istri.


Semua ini akan terealisasi jika hubungan antara ayah dan anak seperti hubungan teman dengan teman dekatnya. Semestinya fenomena inilah yang berlaku. Bila tidak menggunakan cara tersebut, anak-anak tidak akan mampu mencari jalan hidup dan tidak bisa berperan di tengah masyarakat.


Adalah suatu hal yang buruk jika orang tua membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk bermain-main yang semestinya waktu-waktu tersebut dimanfaatkan untuk mengaji Alquran misalnya. Nongkrong di jalan dan berteman dengan teman yang buruk hanya akan menjerumuskan muda-mudi ke berbagai bentuk kerusakan moral.


Seorang ibu hendaknya memantau tingkah laku anak perempuannya dan mengenali teman-teman dekatnya. Janganlah dibiarkan berlalu tanpa mengetahui tempat-tempat yang dikunjungi oleh anaknya. Dalam kondisi tertentu kenyataannya sungguh pahit; anak perempuannya ternyata pergi ke tempat yang tidak diinginkan. Sedikit demi sedikit ia terjerumus ke dalam hal-hal yang naas dan buruk.


Oleh karena itu seorang ayah hendaknya jangan pergi ke tempat tidur sebelum merasa tenang melihat keadaan anaknya. Seorang ayah harus duduk bersama dan memberitahukan apa yang bermanfaat untuk masa depannya, membatasi teman-temannya, mengajari pekerjaan yang bisa dijadikan sebagai sumber hidupnya di masa yang akan datang. Jika kelak anaknya jadi seorang pengusaha hendaknya ayah mengingatkan agar ia tidak mengumpulkan harta haram. Tetapi pikirannya harus terfokuskan pada pencaharian yang halal saja.


Baca juga: Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dan Kaum Fakir


Seorang ayah harus menasihati anak laki-lakinya agar menjaga mata (pandangan) di tengah-tengah sibuknya jual beli, agar ia dikenal sebagai laki-laki yang suci dan berakhlak mulia. Dia juga harus menasihatinya agar bersikap jujur dalam berbicara dan bergaul sehingga orang-orang mempercayainya.


Seorang ibu bertanggungjawab untuk mengarahkan putrinya pada tingkah laku yang baik dan menasihatinya agar jangan pergi sendirian. Namun, ayah dan ibunya juga harus mampu memenuhi kebutuhannya. Jika tidak, lengah sekejap saja dapat terjerumus ke dalam kehancuran, sehingga lenyaplah sudah kehormatan dan masa depannya. Masalah semacam ini merupakan bagian dari tanggung jawab kedua orang tua dalam mendidik anak. Hak anak terhadap kedua orang tua adalah mengajarinya.


Pengarahan semacam ini dapat dilakukan oleh seorang ayah yang mampu menahan gejolak emosinya, berbicara dengan lembut dan penuh cinta kasih tanpa mengutamakan kemarahan, bentakan, dan bicara kasar.


Dana Mustadhafin

#PedulidanTerpercaya