Etika Berdoa dalam Islam



Doa adalah sebuah usaha untuk mengetuk pintu rahmat Allah Swt, dengan doa pula seorang hamba berkomunikasi dengan Tuhannya. Maka sudah sepatutnya setiap muslim untuk memperhatikan etika berdoa yang benar. Rangkaian adab saat berdoa di bawah ini adalah berdasarkan pada tuntunan dari hadis Nabi Saw dan Ahlulbaitnya yang kami kutipkan dari buku Etika Keseharian – Tim Akhlak Al-Huda. berikut etika-etikanya:


1. Mengenal Allah

Pendoa harus memiliki keimanan dan pengenalan terhadap Allah Yang Menciptakan dunia, dan segala perkara berada di tangan kekuasaan, kasih sayang, dan rahmat-Nya. Imam Musa Kazhim as meriwayatkan bahwa sekelompok orang berkata kepada Imam Shadiq as: “Mengapa kami berdoa tetapi tidak dikabulkan?”


Imam menjawab: “Karena kalian berdoa (menyeru) Zat yang tidak kalian kenali.” (Yanabi' al-Hikmah, hadis 3376)


Baca juga Apa Manfaat Doa?


2. Optimis Terhadap Allah

Apabila kita mengharap sesuatu kepada Allah, hendaknya optimis bahwa Dia akan mengabulkannya. Rasulullah Saw bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin terhadap dikabulkannya doa.” (Yanabi' al-Hikmah, hadis 3379)


3. Pesimis Terhadap Segala Sebab

Tatkala pendoa memohon sesuatu kepada Allah, harus hanya berharap kepada-Nya dan memutuskan harapan kepada segala yang lain dalam memenuhi keinginannya. Imam Ja'far Shadiq berkata: “Jika salah seorang darimu ingin agar tidak memohon kepada Allah sesuatu kecuali dikabulkan, maka berputus-asalah dari manusia seluruhnya dan tidak berharap sedikit pun kecuali kepada Allah. Jika Allah mengetahui hal itu lahir dari hatinya, maka tidaklah ia memohon sesuatu kepada Allah kecuali Dia mengabulkannya.” (Al-Kafi, jil. 2)


4. Kehadiran Hati

Doa harus dilaksanakan dengan kehadiran hati dan keinginan yang dilontarkan oleh pendoa dengan lidahnya di hadapan Allah, haruslah berupa keinginan dirinya yang sebenarnya dan lahir dari lubuk hatinya. Doa yang dilakukan dengan kelalaian, tidak akan diterima. Imam Ja'far Shadiq as berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak mengabulkan doa yang lahir dari hati yang lalai, maka jika kamu berdoa hadirkanlah hatimu kemudian yakinlah terhadap dikabulkannya (doa).” (Al-Kafi, jil. 2)


5. Merendahkan Diri

Keadaan merendahkan diri, menangis dan tunduk saat berdoa, menunjukkan kebutuhan. Pendoa seperti ini dapat menunjukkan kesungguhan dirinya dalam hal yang ia inginkan. Dengan demikian, doa harus dilakukan dengan kelunakan hati dan tunduk serta kerendahan diri.


6. Memulai Doa dengan Bismillah

Pada dasarnya setiap individu Muslim harus memulai seti pekerjaannya dengan menyebut nama Allah, terlebih ketika mau berdoa. Nabi Saw bersabda: “Tidak ditolak doa yang diawali dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang (basmalah).” (Bihar al-Anwar, jil. 93, bab 17)


Baca juga Doa Adalah Senjata Orang Mukmin


7. Memuji dan Mengagungkan

Seorang pendoa sebelum mengutarakan keinginannya, terlebih dahulu harus memuji dan mengagungkan Allah Swt dengan sifat-sifat yang layak bagiZat-Nya. Imam Ja'far Shadiq as berkata: “Setiap doa yang tidak didahului dengan pujian dan pengagungan Allah adalah terputus dan tidak berguna.” (Bihar al-Anwar, jil. 93, bab 17)


8. Bersalawat kepada Nabi Saw dan Ahlulbaitnyanya

Setelah menyebut nama Allah dan memuji-Nya, seorang pendoa hendaknya bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya. Rasulullah Saw bersabda: “Salawatmu kepadaku menyebabkan doamu terkabulkan dan membersihkan amal perbuatanmu.” (Bihar al-Anwar, jil. 94, bab 29)


9. Tawasul kepada Nabi Saw dan Ahlulbaitnya

Karena Nabi Saw dan Ahlulbaitnya as adalah perantara­perantara limpahan rahmat Ilahi dan memiliki hak syafaat di sisi Allah, hendaknya orang-orang beriman manakala menyampaikan hajatya ke hadirat Ilahi, bersumpah kepada Allah Swt demi hak dan kehormatan para pemimpin tersebut dan memohon syafaat mereka di sisi Allah.


10. Mengakui Dosa

Seorang pendoa, sebelum menyampaikan keinginan dan hajatnya, hendaknya menyatakan pengakuan atas kelemahan dan dosa­dosanya serta berbagai pelanggaran clan kesalahan yang ia perbuat di hadapan Allah, lalu mengutarakan penyesalan. Imam Ja'far Shadiq as berkata: “Sesungguhnya demi Allah, tidaklah seorang hamba lolos dari dosa melainkan dengan pengakuan.” (Al-Kafi, jil. 2)


11. Memakan Makanan yang Halal

Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah Swt berfirman: “Tugasmu adalah berdoa dan Aku mengabulkannya, maka tidakkan tertutup doa terhadap-Ku kecuali doa orang yang memakan sesuatu dari jalan yang haram.” (Yanabi al-Hikmah, hadis 3326)

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang suka dikabulkan doanya, maka bersihkanlah makanannya Dan usahanya (dari hal­hal haram).” (Yanabi al-Hikmah, hadis 3397)


12. Konsisten

Seorang pendoa tidak boleh segera berhenti dari menyampaikan hajatnya, akan tetapi sebisa mungkin ia tetap konsisten mengutarakan hajatnya kepada Allah. Konsisten membuktikan keyakinan dan kebergantungan hamba kepada Allah Swt. Seorang yang cepat berputus asa dari terkabulnya hajatnya dari sisi Allah, tampak sekali bahwa dirinya tidak seberapa berprasangka baik dan yakin terhadap Tuhannya. Karena itu, dalam sejumlah riwayat ditekankan agar seorang hamba konsisten dalam berdoa. Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang konsisten dalam berdoa.” (Bihar al-Anwar, jil. 93, bab 16)


13. Doa Secara Berjamaah

Untuk memohon hajat, sebaiknya doa dilakukan secara berkelompok (bersama-sama). Imam Ja'far ash-Shadiq as berkata: “Setiap kali ayahku (Imam al-Baqir as) disedihkan oleh suatu masalah, beliau mengumpulkan para perempuan dan anak-anak kemudian berdoa dan mereka meng-amin-kannya.” (A-Kafi, jil. 2)


14. Usaha Menyertai Doa

Ketika pendoa mengutarakan permohonannya kepada Allah, tidak benar apabila segala sesuatunya dipasrahkan kepada Allah dan ia tidak sedikit pun berusaha meraihnya. Namun, di samping berdoa, ia pun harus beramal dan berusaha semampunya. Imam Ali as berkaitan dengan masalah ini berkata: “Pendoa tanpa beramal bagaikan pemanah tanpa busur panah.” (Nahj al-Balaghah, hikmah ke-330)


15. Doa-Doa Mashur

Hendaknya, pendoa dalam menuturkan hajat dan permohonannya menggunakan doa-doa yang datang dari sisi para Imam maksum as. Kandungan-kandungan doa terbaik, berbagai permohonan teragung serta ungkapan-ungkapan terindah terdapat pada doa-doa para Imam maksum as.


Baca juga Mengapa Doa Kita Kadang-Kadang Tidak Dikabulkan?


Doa-doa seperti Kumail, ash-Shabah, Abu Hamzah ats-Tsumali, Munajat asy­Sya'baniyah dan sebagainya adalah doa-doa yang sangat efektif dan berfaedah dalam membina diri dan membangun ruhani serta memurnikan hati orang-orang beriman.

Selain hal-hal yang tersebut di atas, poin-poin lain seperti bersuci dan berwudhu, menghadap kiblat, memilih waktu dan tempat yang sesuai untuk berdoa dan sebagainya harus pula diperhatikan oleh seorang pendoa.