lbadah dan Peningkatan Kualitas Diri


Dampak spiritual, moral, dan sosial dari ibadah mengacu kepada satu hal, yaitu ingat kepada Allah dan melupakan yang lain. Ibadah juga seharusnya berpengaruh terhadap kejiwaan dan proses pendidikan seseorang, seperti dikatakan Alquran: Sesungguhnya salat itu mencegah dari kejahatan dan kemungkaran. (QS.al-'Ankabut: 45)


Pada ayat lain, Alquran mengatakan: Dirikanlah salat untuk mengingat-Ku. Ini menunjukkan bahwa orang yang menegakkan salat akan senantiasa ingat, dirinya tak pernah lepas dari pengawasan Allah Yang Maha Melihat dan Mengetahui. Tidak akan lupa, dirinya adalah hamba Allah. Ingat kepada Allah, sebagai inti ibadab, akan mengilapkan hati dan, dengan begitu, siap menyambut penampakan Allah (tajalli).


Baca juga Penyakit yang Merusak Pahala Amal Ibadah


Imam Ali a.s. berkata: “Sesungguhnya Allah menjadikan zikir sebagai penerang hati sehingga ia tidak tuli dan tidak buta. Dengan zikir segalanya dapat terkendali. Selama hati bersama Allah, karunia nikmat-Nya akan senantiasa mengalir detik demi detik. Dan di setiap waktu, akan selalu muncul manusia yang akal dan pikirannya dibisiki langsung oleh Allah. Bayangkan, betapa menakjubkan khasiat zikir, dan betapa dalam pengaruhnya terhadap hati hingga ia mampu menyerap langsung ilham dan bisikan Allah.” (Nahj al-Balaghah: Khutbah ke-222)


Selain itu, ibadah juga akan memperbarui dan memperkukuh iman kepada Allah. Ketika manusia banyak mengingat Allah, tentu ia takkan melakukan maksiat. Seseorang melakukan maksiat bukan karena tidak mengetahui kemaksiatan, melainkan karena tidak mengingat Allah. Semakin lupa kepada Allah, semakin banyak ia bermaksiat; dan semakin sering mengingat Allah, semakin enggan bermaksiat.


Baca juga Hijrah: Menyempurna dengan Mendekatkan Diri Kepada Allah


Islam sangat menekankan ibadah dalam arti zikir atau ingat kepada Allah, baik yang dikemas dalam bentuk ibadah fardu maupun sunah, sekaligus memerangi segala sesuatu yang dapat merusak ruh ibadah ini dan membuat manusia lupa kepada Allah. Dalam Islam, apa yang dapat membuat manusia lupa kepada Allah disebut haram atau makruh, seperti makan, bicara, atau tidur berlebihan. Dan sesungguhnya ketetapan hukum tentang yang haram dan yang makruh ini, seperti larangan makan berlebihan, memengaruhi kondisi fisik manusia. Jelasnya, manusia butuh makan agar sehat. Tetapi, semua orang tahu, makan bukanlah faktor satu-satunya. Makan sedikit, seperti diajarkan Islam, bisa dipahami bukan hanya untuk menjaga kesehatan, namun penting untuk 'menyehatkan' ruh agar tidak lupa kepada Allah.


Kemudian, fungsi ibadah lainnya adalah untuk memperkukuh kehidupan spiritual manusia. Jika berpikir akan menajamkan pikiran, takwa dan kesucian hati akan menguatkan kehendak maka ibadah bisa memperkukuh hubungan batin dan mengobarkan keimanan. Iman mendorong manusia untuk beribadah, dan ibadah akan memperkukuh imannya. Hubungan timbal balik antara iman dan amal sering disinggung dalam Islam. Iman membimbing manusia untuk beramal, dan amal yang bermuara pada iman akan memperkukuh iman itu sendiri.


Dalam pandangan Alquran, nilai spiritual merupakan dasar untuk membangun kepribadian paripurna. Semua bentuk ibadah dalam Islam mengarah kepada satu titik, yaitu pengukuhan nilai spiritual. Perhatikanlah kehidupan Nabi Muhammad saw, meskipun menghadapi berbagai kesibukan dan kesulitan, namun, sebagaimana dilukiskan Alquran, Nabi selalu mengutamakan ibadah: Sungguh Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam atau sepertiganya dan (begitu pula) sebagian orang yang bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali­kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu. (QS. al-Muzzammil: 20


Allah juga berpesan kepada Rasul-Nya: Dan pada sebagian malam, tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. al-Isra: 79)


Perhatikan juga Ali a.s. betapa di siang hari ia memeras keringat; bekerja dan menegakkan keadilan di tengah masyarakat, dan di jantung malam ia jatuh pingsan karena besarnya rasa takutnya kepada Allah. Inilah yang tertulis dalam lembaran sejarah Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran. Kenyataan ini tidak bisa ditakwilkan atau dipalingkan ke makna lainnya. Segala bentuk penyimpangan dari makna ini merupakan pengkhianatan kepada Alquran. Revolusi yang akan kita lakukan sangat membutuhkan nilai spiritual, selain keadilan sosial bercorak islami. Tentu, nilai spiritual dimaksud adalah yang bersumber dari Rasulullah dan para Imam a.s.


Salah satu contoh tentang peran penting ibadah untuk meningkatkan kualitas diri serta untuk mengubah jiwa adalah kisah yang terjadi pada Imam al­Kazhim. Alkisah, ketika Imam al-Kazhim dipenjara, musuh-musuhnya menyusun strategi untuk menjahati dan menodai kehormatannya. Mereka menugaskan seorang wanita cantik untuk melayani segala keperluannya. Wanita itu menyiapkan makanan untuknya, dan jika ia membutuhkan sesuatu, ia segera memanggil wanita itu. Menurut pikiran mereka, jika Sang Imam sering bertemu dengan wanita itu, tentu lama-kelamaan ia akan terpikat oleh kecantikannya. Dan jika ia telah tergoda, wanita itu akan melaksanakan tugasnya, yaitu berbuat nista kepadanya. Dengan begitu, orang­orang akan menistakan Sang Imam dan mengatakan “Betapa nistanya, seorang laki-laki berduaan dengan wanita di dalam sebuah kamar yang sunyi.”


Baca juga Sifat dan Ciri Orang-orang Saleh


Tetapi yang terjadi justru di luar dugaan. Wanita itu mengalami perubahan spiritual yang sangat hebat. Kini, ia menggelar sajadah dan tenggelam dalam salat dan ibadah. Kabar ini tersiar luas hingga terdengar Harun al-Rasyid. Mereka mendatangi wanita itu yang ternyata sudah menjadi salehah. Kadang-kadang pandangannya mengarah ke langit, kadang-kadang merunduk ke bumi. Ketika ditanya, wanita itu menjawab mantap, “Begitu mataku memandang wajah laki-laki ini, aku menyadari siapa diriku sebenarnya. Betapa telah menumpuk dosa akibat maksiat yang kuperbuat. Kini, aku yakin, aku harus menghabiskan sisa umurku untuk bertobat.” Begitulah, wanita itu menjalani sisa umurnya dalam ibadah.


*Disarikan dari buku Energi Ibadah - Ayatullah Murtadha Muthahhari