Menghidupkan Jiwa Berkorban di Masa Pandemi



“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada memiliki keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Hasyr: 9)


Sejarah mengajarkan kepada kita ketika awal datangnya agama Islam, Rasul Saw dan para sahabatnya memberikan teladan kepada kita untuk saling tolong menolong, mempererat tali persaudaran, rela berkorban, dan yang lebih tinggi dari itu, yakni itsar. Dari ayat di atas Allah Swt mengisahkan, ketika kaum muslimin Mekah yang berhijrah ke Madinah bersama Rasul disambut hangat oleh warga Madinah (Anshar) dengan penuh kecintaan.


Kaum Anshar benar-benar menyambut kaum Muhajirin yang datang kepada mereka dengan tangan terbuka. Mereka saling berlomba untuk memberikan segala apa yang mereka bisa berikan kepada sesama. Padahal saat itu mereka sendiri juga membutuhkan. Itulah yang disebut dengan itsar.


Baca juga: Makna dan Keutamaan dalam Berkurban


Itsar bermakna melebihkan orang lain atas dirinya sendiri. Namun, itsar sudah mulai hilang di masa kita sekarang ini, Padahal akhlak mulia ini sangat dicintai oleh Allah Swt dan juga dicintai oleh setiap makhluk. Memang jika dilihat dari timbangan logika, hal ini merupakan hal yang sangat berat, mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain tanpa mendapatkan imbalan apapun.


Rasul Saw, keluarganya yang disucikan, dan para sahabatnya telah memberikan contoh sebagaimana diabadikan dalam Al-Quran tentang akhlak yang mulia, kita yang mengaku sebagai umatnya harusnya mengikuti dan meneladani apa yang sudah dicontohkan, apalagi di masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini di mana banyak dari saudara kita yang membutuhkan bantuan. Sikap rela berkorban dan itsar di saat-saat seperti ini sangat diperlukan. Allah Swt akan sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang selalu berupaya dan berusaha membantu kebutuhan saudaranya.


Rasullah Saw bersabda, “Orang yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Allah akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu”.


Sikap rela berkorban selain dicintai Allah Swt, juga akan menimbulkan cinta dari sesama, membuat ikatan ukhuwah yang erat dan kuat. Selain itu dengan sikap rela berkorban akan dimudahkan urusannya di dunia dan dilepaskan dari kesusahan di akhirat.


Baca juga: Idul Adha, Hari Kemanusiaan Sejagat Raya


Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya”.


Abu Thufail meriwayatkan, “Suatu ketika Sayidina Ali membeli sepotong pakaian dan mengaguminya. Kemudian dia menyedekahkan pakaian tersebut seraya berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri, niscaya Allah akan mengutamakannya atas diri-Nya sendiri dengan (memasukkannya ke dalam) surga’”.


Yayasan Dana Mustadhafin pada masa pandemi ini juga secara gencar terus membantu dan menyalurkan infak dan sedekahnya kepada mereka yang membutuhkan, dari pembagian sembako untuk fakir dan duafa juga memberikan pelayanan kesehatan melalui program Mobil Sehat, serta berbagai program lainnya. Maka mari berpartisipasi dan berkontribusi dengan mengulurkan tangan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan di masa pandemi ini.


Rekening Infak dan Sedekah:

BCA 375 302 4111

BNI 799 8383 032

CIMB Niaga Syariah 86 000 280 71 00

a.n Yayasan Dana Mustadhafin

Dana Mustadhafin

Peduli dan Terpercaya