Tidak Ada Ketenangan Kecuali dengan Iman



Kaum kapitalis mengajukan tesis bahwa manusia harus dibiarkan hidup secara liberal, dengan dugaan bahwa dengan cara itu manusia dapat hidup bahagia di dunia ini. Padahal tesis semacam itu justru malah menciptakan neraka yang apinya menggilas jutaan anak manusia di dunia ini. Marxisme mengecam habis paham kapitalis, namun tidak lama kemudian, masyarakat Marxis hidup bagaikan di sebuah penjara besar yang anak-anaknya ingin melepaskan diri darinya menghirup hawa segar di luar, dengan penuh kebebasan.


Baca juga Sebaik-baik Umat


Dalam perjalanan sejarah manusia, telah muncul pelbagai tesis untuk membahagiakan manusia, tetapi semuanya tidak berhasil dan sia-sia. Sebabnya adalah karena sesungguhnya tesis-tesis tersebut keluar dari otak manusia yang pandangannya hanya terbatas pada dimensi tertentu dari kehidupan manusia, dan tidak mampu melihat pada dimensi-dimensi yang lain. Karena itulah, masyarakat manusia yang berjalan pada bukan jalan Allah pasti akan hidup dalam kesengsaraan.


Begitu indah ungkapan Alquran dalam hal ini:


Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpun­kannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”


Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” Dan demikianlah Kami membalas orang yang me­lampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (QS. Taha: 123-127)


Hadis-hadis juga menyebutkan bahwa salah satu akibat dosa yang dilakukan seseorang ialah bahwa dia selalu diliputi oleh ketakutan yang berkepanjangan, kegelisahan yang panjang, serta kesusahan yang tak kunjung henti. Imam Jafar Shadiq berkata: “Sungguh ada salah seorang di antara kamu yang sangat takut dengan penguasa, ketakutan itu tidaklah timbul kecuali dari dosa yang telah dilakukan. Oleh karena itu jagalah dirimu dari dosa­-dosa itu semampu kamu dan jangan terlena dalam dosa tersebut.” (Ushul aI-Kafi, 3/377)


Nash-nash Islam menyebutkan tentang keterkaitan antara ketenangan jiwa dan keimanan. Kedua hal itu tak dapat dipisahkan. Allah Swt berfirman: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi ten­teram dengan mengingat Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan meng­ingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’d: 28).


Ungkapan "hati mereka menjadi tenteram" dalam ayat di atas menurut para ahli tafsir adalah sifat atas ungkapan "orang-orang yang beriman". Sehingga pengertiannya mengandung keterkaitan antara keduanya, yakni iman dan ketenangan hati.


Allah Swt berfirman: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (QS. Yunus: 62).


Kenyataan seperti ini pasti dijumpai oleh orang mukmin yang berjalan pada jalur risalah Ilahiah penuh ketegaran dengan jiwa yang tenang dan seimbang ketika menghadapi berbagai kesulitan dan ujian. Alquran pun mengisahkan kepada kita posisi para nabi yang mulia dan ketegaran mereka. Misalnya Nabi Ibrahim kala menghadapi Thaghut ketika dia meneriakkan: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. (QS. al-Anbiya: 68)


Baca juga Sifat dan Ciri Orang-orang Saleh


Nabi Ibrahim menghadapinya dengan penuh ketabahan dan ketegaran. Dia menghadapi api dengan hati yang tenang tanpa kegusaran. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa Jibril turun kepada Ibrahim, di mana pada saat-saat kritis sedang menimpa Ibrahim sambil mengatakan kepadanya: “Hai Ibrahim, apakah bisa saya bantu?”


Nabi Ibrahim menjawab: “Aku tidak butuh bantuanmu.” (al-Bihar, 12/33)


Alangkah nikmatnya Ibrahim yang memutuskan hubungannya selain Allah Swt. Dia melihat dirinya tidak memerlukan siapa­-siapa kecuali Allah Swt, dia merasa bahwa apa yang dia alami adalah diketahui oleh Allah Swt.


Begitulah gambaran yang diberikan oleh Alquran kepada kita tentang kehidupan para nabi Allah, yang hidup dalam ketenangan, di mana ketenangan itu seharusnya bersemayam pada jiwa kaum muslimin dalam segala urusan Allah Swt.


Sejarah dan perjalanan umat manusia memberitahukan kepada kita tentang keagungan iman dalam jiwa kaum muslimin, dan kodrat yang diberikan kepada agama yang mulia ini untuk dipersembahkan kepada para pengikutnya. Semua itu menjadikan mereka seperti gunung terpancang yang tak mampu diterjang oleh badai apa pun.