Akhlak dalam Alquran



Pernah ada orang bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah: "Bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ?"


Ia menjawab: "Akhlak beliau (Rasul ﷺ) adalah Alquran."


Ya, sesungguhnya diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia, dan pada hakikatnya Alquran, seluruh isi dari ajarannya adalah akhlak. Sementara Rasul ﷺ sebagai manifestasi dari ajaran Islam telah merepresentasikan dirinya dalam laku hidupnya sebagai Alquran. Beliaulah Alquran hidup. Sehingga siapa pun manusia yang mengaku sebagai pengikutnya diwajibkan untuk berakhlak baik.


Alquran ketika membahas berbagai tema, seperti tarikh, Hari Akhir, mau pun fikih ibadah, tidak satu pun yang tidak berkaitan dengan akhlak.


Alquran banyak mengisahkan tarikh dari umat terdahulu. Ketika Alquran bercerita tentang Fir'aun misalnya, di sana tidak dijelaskan pada tahun berapa Fir'aun lahir atau mati. Tetapi Fir'aun dilukiskan sebagai simbol dari tiran yang berakhlak buruk. Sementara Nabi Musa adalah manifestasi dari ajaran mulia Tuhan untuk meluruskan akhlak buruk manusia kala itu.


Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak-anak lelaki mereka, dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'an termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 4)


Tujuan dari kisah di dalam Alquran adalah dimaksudkan untuk memberikan pelajaran, supaya kita bisa mengambil pelajaran, sebagai mana firman-Nya dalam surah AI-A'raf ayat ke-176.


Ketika Alquran menceritakan hari akhirat, penghuni surga dan penghuni neraka diceritakan lebih banyak dari segi akhlaknya di dunia.


Baca juga: Mendidik Anak dalam Keluarga Ala Islam.


Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah); dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Al-Shaff: 15-17)


Sudah jelas bahwasanya kelak di akhirat seseorang bisa memasuki surganya Allah adalah hanya untuk mereka-mereka yang selalu berbuat baik dan menyedekahkan hartanya di jalan Allah Swt.


Baca juga: Gerakan Dana Siswa Dana Mustadhafin.


Bahkan ketika Alquran berbicara mengenai fikih ibadah, tidak lain adalah untuk kesempurnaan akhlak. Disebutkan dalam surah Al-Ankabut ayat 45, bahwa salat adalah sesuatu yang dapat mencegah kekejian dan kemungkaran. Haji pun harus dilakukan dengan memelihara akhlak: “Barang siapa yang melakukan kewajiban haji, maka hendaklah ia tidak berkata kotor, tidak melakukan kefasikan dan tidak bertengkar pada waktu haji." (QS. Al-Baqarah: 197)


Dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah poin yang utama dalam beragama, selain dari melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya (takwa) yang tidak dapat dipisahkan. Allah Swt dalam firman-Nya pada surah Ali Imran ayat 134 bahwasanya orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam suka dan duka, yang mampu menahan amarahnya, yang memaafkan orang lain, dan yang berbuat baik.


Dana Mustadhafin

#PedulidanTerpercaya