Kesalehan Diukur dari Akhlak


Alquran menetapkan bahwa akhlak itu tidak terlepas dari akidah dan syariah, ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat dari surat Al-Baqarah ayat 177: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”


Baca juga: Keharusan Berbuat Baik Terhadap Tetangga.


Ayat di atas menjelaskan bahwa bukti kesalehan seseorang tidak dapat dilepaskan dari akhlak yang baik. Kesalehan tidak dapat diukur hanya dari pelaksanaan ritual keagamaan semata, tetapi bagaimana akhlaknya terhadap kelurga, tetangga, dan lingkungan sosialnya.


Jelas pada ayat di atas bahwa seorang yang mengaku beriman ia harus dapat memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta. Kemudian ayat ini juga mengatur tentang akhlak untuk menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, dan penderitaan.


Islam mengatur tolok ukur kesalehan seorang muslim berdasarkan akhlaknya, sebagai mana diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Diriwayatkan dari Sahabat Jabir bin Abdullah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah, sombong, dan takabur.”


Abdullah bin Umar juga meriwayatkan Rasulullah ﷺ berkata kepada Abdullah ibn Mas'ud: “Wahai Ibn Ummi Abd, tahukah engkau mukmin yang paling utama imannya? Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya dan sebelum tetangganya aman dari gangguannya.”


Baca juga: Kedudukan Muslim Yang Berakhlak Itsar.


Nabi ﷺ berkata kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib: “Maukah aku kabarkan kepadamu orang yang paling mirip denganku dalam hal akhlaknya? Ali menjawab: “Tentu, ya Rasulullah.” Nabi bersabda: “Yang paling bagus akhlaknya, yang paling besar maafnya, yang paling berkhidmat kepada keluarganya, dan yang paling keras mendidik dirinya.”


Jadi sudah mafhum, baik dalam Alquran maupun hadis bahwa indikator kesalehan dan keimanan seseorang adalah berdasar pada akhlaknya, tidak bisa disebut sebagai seorang yang beriman apabila ia mengabaikan akhlak baik. Dalam banyak hadis juga disebutkan bahwa akhlak buruk dapat merusak amal. Rasul ﷺ bersabda: "Akhlak yang buruk merusak amal sama seperti cuka merusak madu"


Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang mempunyai istri, kemudian istrinya menyakitinya, Allah tidak akan menerima salatnya, puasanya, dan semua amal salehnya, sebelum ia membuat suaminya senang dan membantunya. Begitu pula suami memikul dosa yang sama apabila ia berbuat zalim dan menyakiti istrinya”


Baca juga: Merawat Iman dengan Menjadi Dermawan.


Dikisahkan juga, telah disampaikan kepada Rasulullah ﷺ bahwa seorang perempuan berpuasa pada siang hari dan salat malam di malam hari, tetapi ia berakhlak buruk. Ia menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada kebaikan padanya. Ia termasuk penghuni neraka.”


Dana Mustadhafin #PeduliDanTerpercaya