Kisah Hikmah: Memaafkan Mendatangkan Kasih Sayang


Kehidupan para pemuka agama merupakan pelajaran tentang kehormatan, kemuliaan, dan kemanusiaan. Keagungan rohani mereka terwujud dalam pelajaran-pelajaran praktis sebagai gambaran yang paling bagus.


Diriwayatkan pada suatu hari, Imam Ali bin Husain al-Sajjad sedang duduk bersama pengikutnya. Seorang lelaki dari pihak keluarganya, Hasan al-Mutsanna mendekatinya seraya menghinanya. Imam Sajjad tidak mempedulikannya. Setelah ia pergi, Imam Sajjad berkata kepada para sahabatnya: “Kalian telah mendengar apa yang dikatakan lelaki itu kepadaku. Aku harap kalian mau menyertaiku untuk mendengar jawabanku kepadanya.”


Baca juga: Metode Mengenalkan Baik dan Buruk Kepada Anak


Para sahabat Imam Sajjad pun bersedia untuk menyertainya. Beliau lalu pergi ke rumah Hasan al-Mutsanna sambil membaca ayat, Kami Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka; dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 135)


Ketika mendengar itu, para sahabatnya berkesimpulan bahwa Imam Sajjad hanya akan mengatakan kata-kata ramah kepada lelaki itu. Imam Sajjad sampai ke rumah Hasan bin al-Mutsanna, lalu berkata, “Katakan kepadanya bahwa aku adalah Ali bin Husain.”


Hasan al-Mutsanna mendengarnya lalu keluar dalam keadaan siap untuk bertarung. la yakin bahwa Imam Sajjad hanya datang untuk membalas dendam. Ketika ia muncul, Imam Sajjad berkata: “Saudaraku, kamu telah datang kepadaku dan mengatakan sesuatu. Apabila yang kamu katakan itu benar, semoga Allah mengampuniku, dan apabila aku tak bersalah atas apa yang kamu tuduhkan itu, semoga Allah mengampunimu!


Baca juga: Kematian adalah Keberuntungan Orang-orang yang Baik


Ketika lelaki itu mendengar apa yang dikatakan Imam Sajjad, ia mencium dahinya seraya berkata, “Sesungguhnya aku menuduhmu padahal kamu tak bersalah.


Kata-kata Imam Sajjad itu mempengaruhi rohani lelaki itu, membebaskannya dari kepedihan dan memberikan kepadanya isyarat untuk menyesal dan bertaubat.


Imam Sajjad memberikan pelajaran kepada para sahabatnya tentang memaafkan dan mengabaikan kesalahan orang lain. Ia juga memperagakan taubat yang membawa bahagia, yang dialami lelaki itu sebagai akibat pemberian maaf. Dari kakeknya, Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Tak mau memaafkan adalah cacat terburuk, dan bergegas melakukan balas dendam adalah dosa terbesar.


Alquran memberi nasihat kepada kaum muslim untuk menjadi pemaaf, Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabat[nya], orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi, Maha Penyayang. (QS. an-Nur: 22)


Allah Yang Mahakuasa juga berfirman: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fushshilat: 34)


Dana Mustadhafin

#PedulidanTerpercaya