Metode Mengenalkan Baik dan Buruk Kepada Anak

Diperbarui: 7 Des 2021



Kalau anak Anda sudah cukup dewasa, maka ajarkanlah pengertian-pengertian yang baik dan yang buruk. Ajarkan kepada mereka pada saat-saat yang tepat agar anak memiliki konsep kebaikan dan keburukan. Berikanlah dorongan agar mereka mau melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Seperti mengatakan kepada mereka bahwa si fulan itu melakukan perbuatan baik, maka teladanilah dan si fulan melakukan perbuatan buruk, maka jauhilah!


Menurut Prof. Ibrahim Amini, orang tua mesti mengajarkan kebaikan dan keburukan yang masih bisa dipahami oleh imajinasi mereka. Jangan dulu mengajarkan topik-topik yang masih abstrak di pikiran mereka. Biarkan anak secara bertahap memahami konsep-konsep kebaikan dan keburukan sekaligus belajar mempraktikkannya. Ketika masih belum dewasa mereka tidak akan banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Barulah setelah mereka matang mereka akan sering mencecar orangtua mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Orang tua juga harus memberikan jawaban-jawaban yang jelas supaya mereka lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan dan menjauhi hal-hal yang buruk.


Baca juga: Saat Tepat Memberikan Pendidikan Agama pada Anak


Pakar pendidikan Anak Jean Soto mengatakan: “Berbicaralah kepada anak-anak dengan bahasa-bahasa yang logis kalau itu sudah memungkinkan. Kalau si anak sudah bisa menyerap kata-kata ibunya maka itu artinya anak-anak tersebut sudah bisa memahami alasan-alasan rasional orang tua mereka. Kadang-kadang mereka juga ingin diperlakukan seperti layaknya orang-orang dewasa.


Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Manusia yang tidak bisa memahami keburukan sesuatu, sulit meninggalkan keburukan tersebut.


Memahami keburukan secara logis akan mendorong seseorang untuk meninggalkannya. Tafakur tentang nilai positif suatu perbuatan bisa memotivasi orang itu untuk mengamalkannya. Jadi penjelasan rasional, logis dan masuk akal tentang suatu perbuatan baik atau buruk bisa juga dimasukkan sebagai bagian dari strategi pemberdayaan. Allah Swt berfirman: “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah.” (QS. an-Nahl: 125)


Metode lain yang efektif dalam pembinaan karakter adalah memberi nasihat. Ada perbedaan antara memberi nasihat dengan mengajar atau memberikan ceramah. Nasihat memiliki pengaruh yang besar. Nasihat itu masuk ke dalam hati walaupun tidak menggunakan penjelasan-penjelasan yang rasional.


Baca juga: Peranan Iman dalam Pendidikan Anak


Nasihat itu cukup ampuh dalam membangunkan kesadaran seseorang, bahkan lebih dari itu karena setiap orang secara alamiah memerlukan nasihat. Tidak semua orang memerlukan pengajaran tapi pasti setiap manusia butuh kepada nasihat, bahkan sekalipun orang-orang pintar dan orang-orang yang saleh. Alquran mengatakan dalam beberapa ayatnya:


Ini adalah penjelasan dan nasihat untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 138)


Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Tuhanmu dan penyembuh apa yang ada di dalam hati serta petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)


Dan sungguh, Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penjelasan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. an-Nur: 34)


Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. an-Nahl: 125)


Sayidina Ali juga mengatakan: “Nasihat itu memberi cahaya kepada hati.


Dana Mustadhafin

#PedulidanTerpercaya