Etika Bepergian dalam Islam


Seorang yang berniat bepergian (safar), sebelum melakukan perjalanan atau tatkala dalam perjalanan, perlu memperhatikan sejumlah poin dari sisi pemeliharaan syarat-syarat, etika, dan perilaku terhadap kawan seperjalanan berikut ini:


Memilih Kawan Seperjalanan


Hendaknya seorang musafir (pelaku perjalanan) sebisa mungkin tidak melakukan perjalanan sendiri dan berusaha memilih kawan seperjalanan untuk menemaninya. Tindakan ini disamping mempererat persahabatan dalam perjalanan dan akhirnya menambah kenikmatannya, seseorang memiliki penolong dan pembela tatkala bahaya dan kesulitan kemungkinan terjadi saat perjalanan, begitu pula menjaga musafir dari penyakit-penyakit dan kebejatan moral yang mengancam individu-individu yang berada dalam kesendirian. Rasulullah ﷺ bersabda: “Pilihlah teman baru kemudian tempuhlah perjalanan!


Baca juga: Membentuk Keluarga Islami


Di samping itu dalam memilih kawan seperjalanan harus diperhatikan bahwa tidak setiap orang layak dan tepat menjadi kawan seperjalanan. Salah satu waktu yang di dalamnya sangat besar terdapat kadar saling mempengaruhi satu terhadap yang lain adalah saat bepergian (safar). Karena itu, seseorang hendaklah memilih kawan seperjalanan yang keberadaan bersamanya akan memberikan efek positif terhadap perkembangan dan kesempurnaan manusia. Imam Ali berkata: “Janganlah engkau duduk berdampingan dalam perjalanan dengan orang yang tidak memandang dirimu berarti baginya padahal engkau memandangnya berarti bagimu.


Menyelesaikan Tanggung Jawab


Seorang musafir sebelum melakukan perjalanan hendaknya menyelesaikan seluruh tanggung jawabnya seperti utang-piutang dan nafkah orang-orang yang berada bawah tanggungannya dan sebagainya. Apabila ia tidak mampu membayar sebagian utang, hendaklah berwasiat agar sepeninggalnya membayarkannya dari hartanya. Demikian pula, jika terdapat hak-hak syar'i yang menjadi tanggungannya.


Menyiapkan Bekal


Musafir sebelum melakukan perjalanannya hendaklah menyiapkan hal-hal yang ia perlukan selama perjalanan dan tidak berangkat tanpa membawa suatu perbekalan atau tanpa bekal yang cukup. Jika tidak, maka apakah dirinya akan tertimpa kesulitan atau ia akan membebani teman seperjalanannya, yang hal ini melawan tradisi dan harga diri. Rasul ﷺ bersabda: “Di antara kemuliaan seorang lelaki adalah membawa bekal yang baik setiap kali hendak menempuh perjalanan.


Baca juga: Ganjaran Untuk yang Berbuat Kebaikan


Zikir dan Doa


Hendaknya musafir memulai perjalanannya dengan menyebut nama Allah sebagaimana pekerjaan lainnya, dan berangkat safar setelah membaca Alquran dan doa. Dianjurkan (mustahab) setelah menyebut nama Allah, membaca surah Alfatihah dan ayat Kursi serta membaca salah satu doa yang diriwayatkan dari para manusia suci yang terkait dengannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ja'far Shadiq membaca doa ini setiap kali hendak melakukan perjalanan:


Ya Allah, leluasakanlah jalan kami dan berikanlah kebaikan jalan kami serta perbanyaklah kesehatan kami.


Begitu pula diriwayatkan bahwa tatkala beliau menaiki kendaraan, terlebih dahulu membaca ayat ini, Mahasuci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya (QS. az-Zukhruf: 13). Kemudian ucapkan zikir subhanallah sebanyak tujuh kali, Alhamdulillah tujuh kali dan La ilaha illallah tujuh kali.


Bersedekah


Salah satu hal yang merupakan sunah Islam adalah mengeluarkan sedekah dan menolong fakir miskin, yang sangat ditekankan tatkala hendak melakukan perjalanan. Berdasarkan hadis-hadis dalam sejumlah riwayat Islam disebutkan bahwa sedekah menolak berbagai marabahaya dan bencana serta mencegah kematian yang buruk. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Sedekah itu menolak bala (bencana).


Baca juga: Sedekah Memanjangkan Usia


Muruwwah / Sikap Baik


Sesama kawan seperjalanan tatkala bepergian hendaknya berlaku baik, ksatria (muruwwah) dan murah hati. Sikap kasar, buruk, egois, dan tidak ikut andil dalam berbagai perkara yang berhubungan dengan perjalanan, bertentangan dengan muruwwah dan mengakibatkan perjalanan dari satu sisi menyusahkan semua dan dari sisi lain orang yang berlaku buruk tadi tidak disukai dan dibenci oleh para peserta perjalanan yang lain. Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah dua orang bersahabat melainkan orang yang lebih berlaku baik terhadap kawannyalah yang akan memperoleh pahala yang lebih besar dan lebih dicintai di sisi Allah.”


Begitu juga beliau bersabda: “Adapun muruwwah di dalam perjalanan adalah mengeluarkan bekal (biaya), berlaku baik, dan bercanda pada hal-hal yang bukan maksiat.


Membawa Oleh-oleh


Dalam riwayat-riwayat Islam dianjurkan bahwa tatkala musafir kembali dari perjalanan hendaklah membawakan hadiah dan oleh-oleh untuk keluarganya yang selama perjalanan merindukannya meskipun sesuatu yang kecil dan murah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika salah seorang kalian keluar melakukan perjalanan, tatkala kembali ke tengah-tengah keluarganya hendaklah membawakan untuk mereka hadiah (oleh-oleh) meskipun hanya sepotong batu.


Baca juga: Hakikat Kebahagiaan


Selain yang telah disebutkan, terdapat pula adab-adab lain dalam bepergian yang hendaknya diperhatikan oleh seorang musafir. Di antara yang dianjurkan sebelum berangkat safar ialah melaksanakan salat dua rakaat, berpamitan kepada sanak keluarga dan kenalan-kenalan, dan mereka pun mengiringi keberangkatannya, lalu setelah datang mengunjunginya. Apabila perjalanan dilaksanakan dalam bentuk rombongan, maka salah seorang mereka hendaklah dipilih sebagai pemimpin mereka dan yang lain berkewajiban mengikutinya.


Berkaitan dengan perkara ini, Nabi ﷺ bersabda: “Jika tiga orang melaksanakan suatu perjalanan, maka hendaklah memilih salah seorang mereka sebagai pimpinan perjalanan.


Alhasil orang yang terpilih sebagai pimpinan perjalanan, haruslah mengerti bahwa tujuannya adalah melayani para peserta perjalanan dan mengatur tugas-tugas serta memberikan kenyamanan perjalanan. Nabi ﷺ bersabda: “Pemimpin kelompok dalam perjalanan adalah pelayan mereka.


*Disarikan dari buku Etika Keseharian – Tim Akhlak Al-Huda


Dana Mustadhafin

#PedulidanTerpercaya